24 April 2017

Film dan Drama Musikal Yang Terinspirasi Dari Tipuan Paling Populer


Pertunjukan seni musik dan drama sudah ada sejak lama sebelum peradaban modern. Namun bagaimana jika pertunjukan drama musikal dan film yang terinspirasi dari hoax yang pernah populer di masa lalu.

Berikut drama musikal dan film berdasarkan hoax (tipuan) populer yang pernah tercatat dalam sejarah:

Ballon Boy: The Musical (2014)


Pertunjukan teater musikal Balloon Boy mulai digelar pada November 2014. Pagelaran ini menceritakan tentang seorang anak yang berpetualang menggunakan balon udara melintasi Colorado. Kisah "Ballon Boy" dikemas dengan unsur komedi dalam balutan musikal modern yang terinspirasi dari tipuan media yang pernah populer.

Ballon Boy: The Musical ditulis oleh remaja yang juga seorang komposer dan penulis drama berusia 16 tahun, Billy Reece. Dalam pernyataannya kepada Fox 31, Reece mengatakan bahwa pertunjukan itu adalah sebuah komedi bukan untuk menentang keluarga Heenes.

Pertunjukan musik dan tari Balllon Boy dimainkan oleh 40 orang mahasiswa dan 30 orang yang membantu dalam bagian teknis. Cerita tipuan Ballon Boy terjadi pada tanggal 15 Oktober 2009 di Fort Collins , Colorado , Amerika Serikat , ketika Richard dan Mayumi Heene menerbangkan balon gas diisi dengan helium hingga terbang ke udara, dan kemudian mereka mengklaim bahwa putra mereka berusia 6 tahun, Falcon, berada di dalam balon udara.

Richard dan Mayumi Heene bersama ketiga anaknya, Bradford, Ryo dan Falcon (tengah)

Klaim Richard dan Mayumi Heene saat itu banyak dilaporkan oleh media massa dengan menyatakan bahwa anak tersebut telah terbang dengan balon udara melintasi beberapa wilayah hingga ketinggian mencapai 7.000 kaki (2.100 m). Falcon dijuluki Ballon Boy oleh media, namun kebohongan Heenes akhirnya terbongkar setelah pihak berwenang mengirim helikopter Garda Nasional dan polisi setempat untuk mengejar balon udara.

Setelah balon udara mendarat, tidak ditemukan anak di dalamnya, namun pihak berwenang terus mencari Falcon yang diduga terjatuh dari balon udara. Pihak berwenang terus menelusuri wilayah yang diduga tempat jatuhnya Falcon namun tidak berhasil menemukannya.

Pihak berwenang telah tertipu karena Falcon sebenarnya tidak pernah berada dalam balon udara, ia bersembunyi di dalam loteng rumah sepanjang waktu. Atas tipuan yang dilakukannya, Richard Heene dijatuhi hukuman 90 hari penjara dan Mayumi Heene 20 hari penjara, dan mereka juga harus membayar denda sebesar $ 36.000.

Cardiff the Musical (2006)


Pertunjukan drama musikal yang menceritakan manusia raksasa dari Cardiff ditulis oleh penulis lokal Deann Haden-Lukas dan fitur musik Karl L. King yang diadaptasi oleh Larry Mitchell. Pertunjukan drama musikal Cardiff diadakan empat kali pertunjukan di Decker Auditorium di Iowa Central Community College pada 9-14 November 2006.

Manusia raksasa Cardiff merupakan tipuan dari tahun 1869, ketika beberapa pekerja sedang menggali sumur mengaku menemukan manusia batu raksasa setinggi sepuluh kaki di Cardiff, New York. Klaim penemuan manusia raksasa di Cardiff dengan cepat menyebar hingga menjadi perdebatan apakah itu manusia yang membatu atau sebuah patung kuno.

Cardiff raksasa dipamerkan di Museum  Farmer's, Cooperstown, New York

Pada kenyataannya semua itu hanya tipuan yang dilakukan oleh George Hull, ia dengan sengaja mengubur batu raksasa berbentuk manusia dengan maksud untuk membantah argumen seorang pendeta tentang apakah Alkitab harus dipahami secara harpiah.

Hull adalah seorang Ateis yang beradu argumen dengan seorang pendeta, Hull berpikir untuk membuat batu dengan bentuk mirip manusia raksasa yang membatu. Apa yang dilakukan Hull melakukan tipuan manusia raksasa untuk mengolok-olok literalis Alkitab, selain itu ia juga berhasil menghasilkan banyak uang setelah seorang pengusaha membelinya dengan harga $ 37. 500.

Teater Great Wall of China (2012)


The Great Wall Story merupakan sebuah drama premier yang ditulis oleh Lloyd Suh yang diadakan di Denver Center. Pertunjukan ini terinspirasi dari kebohongan paling mengerikan yang pernah terjadi pada 1890-an.

Pada tanggal 25 Juni 1899, empat wartawan dari surat kabar Denver melaporkan bahwa pemerintah China akan meruntuhkan bagian-bagian dari Tembok Besar China, melumat batu, dan menggunakannya untuk membangun jalan. Frank C. Lewis, seorang wakil sindikat kapitalis Chicago, dikreditkan sebagai sumber informasi ini.

Rincian berita tersebut akhirnya terungkap merupakan sebuah tipuan. Empat wartawan Denver - Al Stevens, Jack Tournay, John Lewis, dan Hal Wilshire - telah menciptakan cerita tipuan saat mereka minum bersama di bar Oxford Hotel, tipuan tersebut diciptakan karena saat itu mereka kekurangan bahan berita.

Puluhan tahun kemudian rumor tersebut kian menyebar hingga terdengar oleh pihak China, mereka murka karena Amerika berniat meruntuhkan Tembok China. Rumor ini juga mengatakan bahwa China menyatakan perang dengan pihak Barat sebagai pembalasan, rumor ini mengklaim kejadian itu sebagai penyebab terjadinya Pemberontakan Boxer.

Kisah bagaimana tipuan penyebab Pemberontakan Boxer terbukti sangat populer sebagai senjata lidah, hingga sampai saat ini terus digunakan sebagai kisah moralitas untuk menunjukkan "kekuatan lidah" - istilah yang sangat populer "mulut Anda bisa membuat Anda dalam kesulitan" (mulutmu harimaumu). Namun, tidak ada bukti bahwa rumor itu benar, sejak tipuan pada 1899 tidak ada apapun pengaruh dengan peristiwa di China terkait tipuan tersebut.

Teater Drama Fake (2009)


Drama Fake merupakan karya seorang penulis, sutradara film, televisi, teater dan opera, Eric Simonson. Drama Fake terinspirasi dari tipuan "Piltdown Man" yang diklaim sebagai bukti penemuan kerangka yang menghubungkan kera-manusia.

Pada 1907, sebuah tulang rahang ditemukan di Jerman yang diklaim memiliki karakteristik sebagai bukti hubungan evolusi manusia dengan kera. Seorang ahli paleontologi amatir juga pengacara yang tinggal di Inggris Selatan, Charles Dawson, meminta bantuan Arthur Smith Woodward, penjaga Departemen Geologi di British Museum, mencari bagian fragmen tulang lainnya di kota Piltdown.

Pada 1912, Dawson dan Woodward mengklaim menemukan dua fragmen tengkorak dan tulang rahang, kedua fragmen memiliki kedekatan hubungan antara satu sama lain. Pada bulan Desember 1912, Woodward menampilkan rekonstruksi tengkorak pada pertemuan Geological Society of London.

Woodward berpendapat bahwa itu adalah tengkorak seorang pria, yang disebutnya sebagai manusia Piltdown (berdasarkan lokasi di mana tengkorak ditemukan). Ia berpendapat bahwa itu berasal dari manusia yang mungkin telah hidup sekitar setengah juta tahun yang lalu, selama periode Lower Pleistocene.

Hasil rekontruksi Woodward dari tengkorak manusia Piltdown

Klaim Woodward dengan cepat menyebabkan kegemparan besar dalam komunitas ilmiah. Banyak yang merasa bahwa tulang rahang dan tengkorak tidak sama satu sama lain. Namun para pendukung Woodward berhasil memenangkan argumen dan akhirnya spies baru masuk dalam catatan dengan nama Eoanthropus Dawson.

Selama lebih dari tiga dekade, tengkorak Piltdown diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai artefak otentik. Tapi karena kerangka manusia purba semakin banyak ditemukan oleh para arkeolog, tengkorak Piltdown semakin jelas tidak menunjukkan sebagai fosil manusia yang akurat.

Pada tahun 1953, tim peneliti di British Museum (Kenneth Oakley, Wilfred Le Gros Clark, dan Joseph Weiner) meneliti tengkorak dan tulang rahang yang ditemukan di Piltdown dalam serangkaian tes ketat. Apa yang mereka temukan sangat mengejutkan, tengkorak itu teridentifikasi palsu.

Film Kapten Köpenick (1931)


Kapten Köpenick merupakan film drama satir karya seorang dramawan Jerman Carl Zuckmayer. Film ini pertama kali diproduksi pada 1931, berdasarkan cerita nyata yang terjadi pada tahun 1906, kisah keberuntungan seorang mantan narapidana dan pembuat sepatu, Wilhelm Voigt.

Drama Kapten Köpenick pertama kali diproduksi di London pada tahun 1953 dan kemudian di Old Vic oleh National Theatre Company pada tahun 1971, dibintangi Paul Scofield sebagai Wilhelm Voigt . Pada tahun 2013, National Theatre memproduksi kembali versi drama dalam bahasa Inggris, Antony Sher mengambil peran utama mendapat banyak pujian kritis.

Pada tanggal 16 Oktober 1906, seorang pembuat sepatu dari Jerman bernama Wilhelm Voigt mengenakan seragam kapten militer yang ia beli di toko, pergi ke luar untuk mengendalikan pasukan militer. Ia memimpin tentara menuju balai kota Köpenick untuk menangkap Walikota dan bendahara atas tuduhan penggelapan uang.

Voigt berhasil menyita uang dan aset negara, lalu ia menghilang dengan membawa banyak uang. Insiden tersebut menjadi sangat terkenal sebagai simbol dari ketaatan buta tentara Jerman di mana mereka dengan mudahnya percaya dan mengikuti perintah seorang Kapten palsu.

Film Shattered Glass (2003)


Shattered Glass merupakan film drama Amerika-Kanada yang menceritakan tentang penipuan jurnalistik Stephen Glass. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Billy Ray, latar cerita terinspirasi dari artikel yang diterbitkan pada September 1998 dari Vanity Fair buatan H. G. Bissinger.

Dalam artikel tersebut, ia mengisahkan tentang karier jurnalistik Stephen Glass di The New Republic pada pertengahan 1990-an dan kejatuhannya ketika kecurangan jurnalistiknya terungkap. Film ini sebelum tayang di berbagai festival film, tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto pada 10 Agustus 2003, kemudian melakukan perilisan terbatas di Amerika Utara pada 26 November 2003. Meskipun tidak meraih kesuksesan box office, film ini telah mendapat sambutan cukup meriah.

Stephen Glass merupakan seorang jurnalis di The New Republic, di mana ia telah membuat ketenaran untuk dirinya sendiri dalam menulis berbagai macam cerita. Tipuan Glass berawal ketika ia menerbitkan cerita dengan judul "Hack Heaven", tentang seorang hacker remaja bernama Ian Restil yang diberi pekerjaan yang menguntungkan di perusahaan software Jukt Micronics setelah melakukan hacking ke dalam sistem komputer mereka.

Setelah artikel ini diterbitkan, Adam Penenberg , seorang reporter di Forbes Digital Tool, mulai meneliti cerita tersebut untuk menemukan bagaimana Glass melakukan tipuannya. Penenberg tidak menemukan bukti yang menguatkan cerita Glass dan membuat kekhawatiran The New Republic.


Berita Glass banyak kejanggalan dan tidak ada bukti kuat bahwa ceritanya adalah fakta. Glass akhirnya mengakui bahwa cerita tentang hacker remaja adalah palsu hasil karangannya, pihak New Republic akhirnya marah dan memecat Glass yang telah melakukan tipuan jurnalistik.

Film Princess Caraboo (1994)


Princess Caraboo merupakan film yang terinspirasi dari tipuan seorang Putri Caraboo dari tahun 1817. Tipuan Princess Caraboo dijadikan bahan naskah dan dijadikan film pada tahun 1994. Film ini ditulis oleh Michael Austin dan John Wells, dengan menambahkan beberapa elemen cerita fiksi.

Putri Caraboo merupakan tokoh fiksi yang dimainkan oleh seorang penipu ulung bernama Mary Baker, Ia berpura-pura menjadi putri dari sebuah kerajaan dan berhasil menipu kota British selama beberapa bulan. Cerita berawal pada 3 April 1817, seorang tukang sepatu di Almondsbury di Gloucestershire, Inggris, bertemu dengan seorang wanita muda, ia merasa aneh karena wanita tersebut mengenakan pakaian eksotis dan berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.

Princess Caraboo berasal dari pulau Javasu di Samudera Hindia. Dia ditangkap oleh bajak laut dan setelah perjalanan panjang ia melompat ke laut di Selat Bristol dan berenang hingga ke daratan wilayah Worall, batas Kota Sheffield.

Princess Caraboo dari Javasu

Pejabat kota meyakini Caraboo adalah seorang putri kerajaan hingga memberikan fasilitas mewah. Namun akhirnya kebenaran muncul setelah seorang penjaga rumah, Neale, melihat gambar Caraboo di Bristol Journal. Putri Caraboo sebenarnya Mary Willcocks, putri seorang tukang sepatu dari Witheridge, Devon.

Ia pernah menjadi pelayan di beberapa wilayah Inggris tapi tidak memiliki tempat tinggal. Dia menciptakan bahasa fiktif hasil dari khayalannya dan kata-kata gipsi juga menciptakan karakter dan cerita eksotis.

Film The Hoax (2006)


The Hoax merupakan film drama Amerika yang dirilis pada 2006, dibintangi oleh Richard Gere. Film ini disutradarai oleh Lasse Hallstrom, penulis skenario William Wheeler yang berdasarkan dari novel dengan judul yang sama karya Clifford Irving (1981).

Dalam film "The Hoax", Irving ikut membantu sebagai penasihat teknis, namun ternyata hasil skenario film sangat jauh berbeda dengan isi novel aslinya. Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya telah diubah atau dihilangkan dari film. Dengan alasan tidak suka dengan skenarionya yang melenceng jauh dari novel aslinya, Irving memutuskan mengundurkan diri dan tidak mau terlibat dalam pembuatan film itu dan meminta namanya dihapus dari kredit film tersebut.

Pada tahun 1970 novelis Clifford Irving dan rekannya Richard Suskind merencanakan untuk menulis 'otobiografi' dari Howard Hughes, yang telah mundur dari kehidupan publik sejak akhir tahun 1950-an. Kehidupan Hughes yang sangat tertutup telah membuat spekulasi dari rasa ingin tahu tentang perjalanan hidup Hughes.

Penerbit bermaksud menyajikan sebuah kisah tentang bagaimana Hughes menghabiskan hari-harinya, karena sosok Hughes yang cukup populer dan tertutup membuat buku itu menjadi best seller. Buku biografi Hughes akhirnya banyak dipercaya karena Hughes maupun Suskind tidak pernah berbicara tentang buku tersebut.

Seiring berjalannya waktu akhirnya Hughes muncul ke publik memecah kesunyian media, ia secara terbuka menolak tentang buku biografinya yang ditulis oleh Irving. Atas penipuannya Irving akhirnya mendekam di penjara walau dalam waktu yang cukup singkat, setelah keluar dari penjara ia menulis tentang kisah asli bagaimana ia hampir berhasil mendapatkan uang besar dari penerbitan buku biografi Howard Hughes.

Kisah cerita Irving akhirnya menginspirasi sutradara Lassse Hallstrom dalam film The Hoax yang dirilis pada 2006, film tersebut dibintangi oleh aktor Richard Gere. Film The Hoax masuk daftar peringkat teratas di Hollywood, judul film tersebut akhirnya menjadi populer untuk menyebut sebuah kebohongan dengan menggunakan kata "hoax".

Film The Man Who Never Was (1956)


The Man Who Never Was merupakan film berdasarkan kisah nyata upaya Inggris mengelabui musuh untuk melemahkan pertahanan Sisillia sebelum serangan pada 1943, menggunakan dokumen palsu orang yang telah tewas.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata Operation Mincemeat, strategi disinformasi yang sukses digunakan Inggris selama perang dunia kedua. Strategi tipuan dilakukan untuk menipu invasi pasukan sekutu Sisillia.

Dua anggota intelijen Inggris menemukan mayat Glyndwr Michael, gelandangan yang meninggal akibat makan racun tikus. Mayat tersebut akhirnya dipakaikan pakaian militer layaknya seorang perwira dari Royal Marines dan menempatkan barang-barang pribadi, tujuannya agar mayat tersebut diidentifikasi sebagai Kapten William Martin.

Dalam tubuh mayat juga diselipkan rencana antara dua jenderal Inggris yang menyarankan bahwa sekutu merencanakan untuk menyerang Yunani dan Sardinia, sedangkan Sisilia hanya sebagai target dari tipuan, dengan demikian Sisillia tidak memperketat pertahannya.

Dampak sebenarnya dari Operation Mincemeat tidak diketahui, meskipun pulau tersebut berhasil dibebaskan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya dan kerugian lebih rendah dari yang diperkirakan. Kejadian tersebut digambarkan dalam Operation Heartbreak, sebuah novel karya mantan menteri kabinet Duff Cooper tahun 1950. Salah satu agen yang menjalankan Operation Mincemeat, Ewen Montagu, menulis tentang sejarah strategi operasi tersebut pada tahun 1953, karya Montagu ini akhirnya dijadikan dasar untuk film The Man Who Never Was yang diproduksi pada tahun 1956.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon