11 April 2017

Benarkah Serangan Senjata Kimia Baru-baru Ini di Suriah Adalah Rekayasa?


Baru-baru ini dunia digemparkan dengan insiden serangan senjata kimia di Suriah pada 4 April 2017. Banyak pihak yang mengecam dan ada juga yang menuduh bahwa kejadian tersebut adalah rekayasa. Bahkan beredar sebuah video yang diklaim organisasi kemanusiaan White Helmets melakukan rekayasa serangan bom kimia di Suriah.

Berikut klaim video yang beredar:


Lihat video rekayasa dari White helmet, organisasi teroris yang menyamar jadi relawan kemanusiaan.


Selengkapnya ...

Video di atas yang diklaim sebagai rekayasa White Helmet dalam serangan bom kimia di Suriah adalah hoax. Faktanya video tersebut merupakan aksi Mannequin Challenge yang dilakukan oleh White Helmets dan beberapa relawan. Tantangan Mannequin tersebut dirilis oleh aktivis dari Angkatan Revolusioner Suriah (RFS)  yang bertujuan untuk meningkatkan "kesadaran akan penderitaan rakyat Suriah".

Video yang beredar pada November 2016 tersebut sebenarnya bukan aksi Mannequin Challenge resmi White Helmets, dua orang relawannya kebetulan ikut dalam aksi, bahkan video itu belum disetujui oleh pimpinan tim.

In a statement to the BBC, the White Helmets acknowledged the involvement of two of their volunteers but said the video had not been sanctioned by the group's leadership team.


Merdeka.com bahkan merilis artikel pada 10 April 2017 dengan judul "Dokter Swedia sebut video serangan gas kimia di Suriah palsu". Dalam laporan beritanya menulis bahwa kelompok dokter menamakan diri Dokter Swedia untuk Hak Asasi atau Swedish Doctors For Human Right (SWDHR) menyebut White Helmets sebagai pembunuh anak-anak yang terekam dalam video.


Dikutip dari laman Veterans Today pekan lalu, para dokter menemukan video itu dibuat-buat alias palsu dan bahkan terdengar instruksi dalam bahasa Arab yang menyuruh anak-anak korban serangan gas itu posisinya diatur untuk keperluan rekaman video bukan untuk perawatan.

SWDHR bahkan jelas-jelas menyebut justru para dokter pegiat kemanusiaan White Helmets itu adalah pembunuh anak-anak di dalam video tersebut.

Tim dokter SWDHR selanjutnya mengatakan, setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata bocah di video itu pingsan karena overdosis candu/opium. Video juga memperlihatkan seorang bocah disuntik di bagian dada di dekat jantung dan akhirnya tewas ketika suntikan berisi cairan palsu itu masuk ke tubuhnya.

Analisis para dokter SWDHR menyatakan video itu dimaksudnya memperlihatkan penyelamatan akibat serangan gas kimia beracun, termasuk suntikan dengan jarum panjang ke bagian jantung seorang bocah. Itu bukan cara penangan korban serangan gas kimia yang benar.

Laporan berita Merdeka mengutip dari laman Veteran Today yang sebenarnya tidak ada korelasinya dengan insiden serangan senjata kimia yang baru-baru ini terjadi di Suriah. Artikel yang dirilis pada Maret 2017 ditulis oleh Prof Marcello Ferrada de Noli, ketua Swedish Doctors for Human Rights – SWEDHR, sebenarnya merupakan analisis dari video yang dipublikasikan oleh White Helmets atas dugaan serangan gas kimia pada Maret 2015.

Summary. This article reports updated findings I obtained in a further examination of videos published by the White Helmets, and which aimed to represent consequences of an alleged gas attack in Sarmine in March 2015 [See my first report of March 6, 2017]. [1] The videos depict a medical rescuing scenario focused on ‘lifesaving’ procedures on children.

Artikel terbaru yang dirilis pada April 2017 menyebutkan bahwa tulisan artikel merupakan pemeriksaan dari video White Helmets (2015) yang dilakukan oleh tim dokter Swedia, yang mengungkapkan bahwa prosedur penyelamatan anak yang terlihat di video adalah salah. - bahkan mengancam jiwa - atau sama sekali palsu.


An examination of a White Helmets video, conducted by Swedish medical doctors, specialists in various fields, including paediatrics, have revealed that the life-saving procedures seen in the film are incorrect – in fact life-threatening – or simply fake, including simulated emergency resuscitation techniques being used on already lifeless children.

SWEDHR dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa semua artikel laporannya telah ditafsirkan secara keliru oleh Veteran Today. Berita dari Veteran Today mengambil sumber dari SWEDHR, namun beritanya sama sekali tidak akurat dan tidak mewakili SWEDHR

The site “Veterans Today” published an article with the title “Swedish Medical Associations Says White Helmets Murdered Kids for Fake Gas Attack Videos”. This formulation is utterly inaccurate and do not represent our position on the issue, neither what SWEDHR is as independent NGO organization of human rights, nor the conclusions reached by the doctors examining the White Helmets videos.

SWEDHR tidak pernah menuduh White Helmets "membunuh anak-anak". Juga tidak pernah menuduh kebrutalan yang dilakukan oleh personil pada video yang dipublikasikan White Helmets. SWEDHR sangat berhati-hati mengambil kesimpulan untuk mencegah adanya tuduhan pembunuhan yang disengaja. Hal ini merupakan kesimpulan yang diambil oleh penulis artikel SWEDHR, Prof. Marcello Ferrada de Noli, setelah para dokter dari SWEDHR mencermati video yg dipublikasikan White Helmets di YouTube pada 2015 silam.

Swedish Doctors for Human Rights has never accused the Whte Helmest of “murdering children”. Neither we have accused of such atrocity the personnel showed in the video published by White Helmets. We took special care of formulating our conclusion as to exclude any accusation of intentional killing. This is instead the conclusion reached by the author of the SWEDHR articles, Prof Marcello Ferrada de Noli, after doctors at SWEDHR examined videos published by White Helmets in YouTube::

Analisis dari SWEDHR berdasarkan melihat prosedur 'penyelamatan nyawa' pada anak-anak yang ditampilkan pada video White Helmets. Dalam analisisnya menyatakan bahwa itu salah, dan dilakukan pada anak yang sudah meninggal. Jarum yang dipakai untuk 'injeksi intrakardial' pada bayi laki-laki diketahui kosong, atau isinya tidak pernah disuntikkan ke anak tersebut. Dengan demikan, anak tersebut kemungkinan sudah tewas saat manuver 'penyelamatan nyawa' yang terlihat pada video White Helmets.

Sedangkan laporan dari Veteran Today menyebutkan bahwa tindakan orang dalam video "menyebabkan kematian anak tersebut". Dalam istilah forensik, penyebab kematian, juga metode dan pemberian tindakan, laporan Veteran Today berbeda dengan apa yang SWEDHR sampaikan dalam analisisnya.

“Conclusion:

‘Lifesaving’ procedures on the children showed in the White Helmets videos were found to be fake, and ultimately performed on dead children. The syringe used in the ‘intracardial injection’ performed on the male infant was empty, or its fluid was never injected into the child. This same child showed, briefly, discrete life-signs (uncertain in my judgement) in the first segment of WH Vid-1. If so, this child might have died during the lapse in which the ‘lifesaving’ manoeuvres showed in the White Helmets movie went on. (Which is not the same than affirming that the personnel seen in the videos caused the dead of the infant. In forensic terms, the actual cause of death, as well as the mode and the issue of intent, refer to different items than those treated in our analysis).”



Kesimpulan: Video tuduhan bahwa White Helmets melakukan rekayasa serangan senjata kimia di Suriah dan pernyataan dokter Swedia terkait White Helmets tidak ada korelasinya dengan serangan senjata kimia di Suriah baru-baru ini (April 2017). Video Mannequin Challenge oleh White Helmets digunakan untuk tuduhan palsu rekayasa serangan senjata kimia di Suriah. Bahkan analisis dari SWEDHR atas video dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah pada 2015, disalahgunakan untuk tuduhan palsu serangan senjata kimia di Suriah baru-baru ini hanya rekayasa.

Catatan: Artikel ini merupakan analisis sesuai yang diklaim dalam artikel, untuk keseluruhan berita kontroversi tentang serangan senjata kimia di Suriah baru-baru ini, kami tidak berhak menyimpulkannnya karena itu berhubungan dengan politik internasional. Dalam hal politik, sangat sulit untuk menentukan sumber mana yang dapat dipercaya.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon