27 March 2017

Remaja 15 Tahun Jack Andraka Menemukan Metode Deteksi Kanker Pankreas?

Jack Andraka

Seorang remaja AS, Jack Andraka ramai diberitakan outlet berita atas prestasinya menemukan cara mendeteksi kanker pankreas 168 kali lebih cepat dan 1000 kali lebih murah dibanding uji yang telah ada. Remaja kelahiran tahuun 1997 ini mendapatkan menjadi pemenang dalam lomba Intel International Science and Engineering atas temuannya saat usia 15 tahun (2012).

Berikut laporan berita dari bbc.com, merdeka.com, tempo.co, detik.com.

Seorang remaja berusia 15 tahun, Jack Andraka, menciptakan tes kanker pankreas 168 kali lebih cepat dan 1.000 kali lebih murah dibandingkan dengan uji yang ada.

Jack Andraka telah mengajukan paten untuk tes kanker pankreas dan kini tengah melakukan penelitian lebih lanjut di Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Amerika Serikat.

Andraka menemukan cara untuk tes kanker pankreas ini dengan menggunakan Google.

Remaja asal Maryland ini memenangkan hadiah sebesar US$75.000 dalam lomba Intel International Science and Engineering Fair bulan Mei lalu atas temuannya.

Ia mengatakan mesin pencari dan bahan sains yang gratis di online membantunya menciptakan tes kanker ini.

Andraka mengatakan kepada wartawan BBC Matta Danzico, gagasan untuk menciptakan tes kanker ini muncul saat ia mengikuti kelas biologi.

Ia mengatakan ingin melanjutkan penelitian lanjutan di salah satu laboratorium kanker terbesar di dunia.

Seperti halnya banyak remaja lain, Andraka mengatakan ia suka bermain kayak dan juga nonton film seri musikal Glee.




Campuran (Hoax & Fakta)

ANALISIS

Klaim yang menyatakan bahwa Jack Andraka menemukan metode baru mendeteksi kanker pankreas saat usia 15 tahun (2012) tidak benar dan terlalu dibesarkan-besarkan. Klaim yang beredar, Jack terinspirasi tentang metode baru deteksi kanker pankreas karena pamannya yang meninggal dunia karena penyakit kanker pankreas. Dengan segenap hati dan upayanya ia terus belajar dan melakukan percobaan serta penelitian dengan ratusan kali penolakan dari laboratorium, tepatnya 199 kali proposal penelitiannya.

Lebih dari 85 persen dari semua kanker pankreas didiagnosis terlambat, ketika seseorang memiliki kurang dari dua persen kesempatan untuk bertahan hidup. Bagaimana ini bisa terjadi? Jack Andraka berbicara tentang bagaimana dia mengembangkan tes deteksi dini yang menjanjikan untuk kanker pankreas yang super murah, efektif dan noninvasif – pencapaiannya dilakukan sebelum ulang tahunnya yang ke-16.

Menggunakan analitis tabung nano karbon dan saat kuliah biologi mempelajari tentang antibodi dan kilatan cahaya, membuat remaja 15 tahun Jack Andraka merancang karya besar dengan harga murah juga sebagai detektor kanker yang lebih sensitif.

Tentang Jack Andraka

Jack Thomas Andraka berasal dari Crownsville, Maryland, Amerika Serikat. Ia adalah pemenang utama 2012 Intel Science Fair. Andraka dianugerahi Gordon E. Moore Award senilai $75.000 atas karyanya dalam pengembangan metode deteksi kanker pankreas baru. Ia juga memenangkan beberapa penghargaan lain dalam kategori individu dengan nilai total $100.500.

Saat diwawancara BBC, Jack mengatakan ide uji kanker pankreasnya muncul saat mengikuti kelas biologi di North County High School. Dari situ, ia belajar tentang antibodi dan membaca artikel tentang metode analitis menggunakan tabung nano karbon. Selepas itu, ia terus mencari tahu tentang tabung nano dan biokimia kanker dengan bantuan Google Search dan jurnal ilmiah gratis

Metode diagnosis Jack Andraka

Andraka melakukan kultur sel MIA PaCa dari jalur sel karsinoma pankreas komersial yang menunjukkan sifat-sifat mesotelin, sebuah penanda biologis kanker pankreas. Mesotelin tersebut diisolasi, dikonsentrasikan, dan dihitung menggunakan ELISA. Secara spesifik, penjelasan singkat metode Andraka menggunakan antibodi yang akan mengikat mesotelin dan memperbesar diri. Molekul-molekul yang terjejalkan ini akan terus menyebarkan tabung nanu, mengubah sifat listrik jaringan tersebut. Semakin banyak mesotelin yang ada, semakin banyak pula antibodi yang mengikatnya dan tumbuh besar dan sinyal listriknya justru akan semakin lemah.

Proses diagnosis terobosan Jack Andraka melibatkan bagian sederhana dari kertas filter yang dicelupkan dalam larutan tabung nano karbon. Dengan menggunakan tabung nano karbon dan antibodi yang sensitif terhadap mesothelin, protein yang ditemukan dalam kadar tinggi pada orang dengan kanker pankreas. Ketika dicelupkan ke dalam darah atau urin, mesothelin yang mengandung antibodi ini akan terdeteksi perubahannya yang diprediksi dalam konduktivitas listrik nanotube.

Nanotube ini dilapisi dengan antibodi spesifik dan dirancang untuk mengikat protein atau virus untuk mendiagnosis. Trik yang digunakan dalam mendiagnosis sel kanker adalah bahwa ada perubahan signifikan dalam konduktivitas listrik dari nanotube ini ketika jarak antara keduanya berubah. Artinya, ketika antibodi pada permukaan nanotube masuk dalam kontak dengan target protein atau virus, protein mengikat tabung ini dan melebar sedikit kecil. Pergeseran ruang antara tabung ini terdeteksi oleh meteran listrik.

Antibodi adalah protein yang digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasi dan menetralisir benda asing seperti bakteri dan virus, protein kanker dalam kasus ini. Andraka menemukan ribuan protein yang dapat dideteksi dalam darah orang yang menderita kanker pankreas.

Apakah metode Andraka efisien?

Sensor Andraka bisa mendiagnosis adanya protein kanker terkait pankreas sebelum mulai menyebar dan menjadi invasif. Seperti dilaporkan oleh Forbes, sistem itu adalah 168 kali lebih cepat, 26.667 kali lebih murah, dan 400 kali lebih sensitif daripada metode mendiagnosis pada kanker yang telah ada. Sensor Andraka hanya butuh biaya $3, sedangkan selama 60 tahun teknik diagnosis yang disebut enzim-linked immunosorbent assay (ELISA) membutuhkan biaya hingga $800. Dan juga sepuluh tes dapat dilakukan dengan satu strip, setiap tes hanya membutuhkan waktu lima menit.

Jack Andraka sedang dalam proses mematenkan penemuannya dan mendekati American Association for Cancer Research untuk mempublikasikan karyanya. Remaja jenius itu mengatakan bahwa ia akan mengembangkan cara-cara yang lebih efisien untuk menyaring bentuk lain dari kanker serta penyakit jantung dan HIV / AIDS, dan benar-benar akan menggantikan uji ELISA dalam beberapa tahun ke depan.

Namun yang perlu dicatat, Andraka bukanlah orang pertama yang membuat sensor tabung nano karbon dilapisi antibodi dan menggunakannya untuk skrining kanker. Pada November 2008, para peneliti di University of Delaware berhasil menciptakan sensor yang sangat sensitif untuk sel-sel kanker payudara menggunakan tabung nano karbon. Pada bulan Juli 2009, para peneliti di Korea Selatan menggunakan tabung nano karbon untuk sel-sel kanker prostat. Jack Andraka menggunakan teknik mendiagnosis serupa untuk mengembangkan cara yang efisien untuk skrining kanker pankreas.

Jadi pernyataan yang mengatakan "Jack Andraka menemukan metode baru yang mampu mendeteksi kanker" adalah palsu, dan menciptakan harapan palsu kepada pasien. Dr David Malka, ahli onkologi di Institut Gustave-Roussy di Paris, memperingatkan bahwa itu adalah tes yang memberikan harapan palsu kepada pasien. Saat ini tidak ada tes skrining kanker pankreas, selain itu sangat sulit mendiagnosis karena masih ada kecenderungan untuk penyakit ini.

Kanker pankreas adalah salah satu kanker yang paling ditakuti. Pankreas adalah organ penting yang terletak di rongga perut, bentuknya memanjang, tempatnya hampir horizontal. Pankreas terletak dekat kantong empedu tepat di bawah perut, dekat ginjal dan limpa.


Mengapa Andraka tidak masuk daftar 30 under 30?

Jika Jack Andraka menemukan metode baru mendeteksi kanker pankreas yang sangat spektakuler, mengapa ia tidak masuk dalam daftar 30 under 30 majalah Forbes. Dalam catatan tertanggal 8 Januari 2014, Matthew Herper, dalam majalah Forbes, menjelaskan mengapa dia tidak menempatkan Jack Andraka pada daftar "30 under 30". Daftar majalah bergengsi Forbes bertujuan untuk " mengakui prestasi luar biasa profesional muda berusia di bawah 30 tahun dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan, energi dan perawatan kesehatan.

Menurut para ahli, Herper kesulitan kepada siapa ia harus menyerahkan draft artikel Andraka agar disetujui untuk merilisnya, hasil klaim Andraka terlalu buruk untuk diakui dan tentunya di luar ekspektasi dari apa yang telah ditulis oleh pers.

Karya Andraka belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah. George Church, Engineer di Biologi Molekuler dari Harvard University, salah satu juri ahli untuk proyek 30 Under 30, berpikir bahwa sebagian besar poin kunci dari sensor Andraka - misalnya, itu 168 kali lebih cepat, 26,667 kali lebih murah dan 400 kali lebih sensitif dibandingkan teknologi yang sudah ada - mungkin semua itu tidak akan bertahan, atau setidaknya membutuhkan kerja keras lagi untuk membuktikannya.

Kesimpulan

Tanpa mengecilkan kemampuan Jack Andraka, semua berharap klaimnya menemukan alat diagnosis yang lebih baik untuk melawan kanker pankreas yang selama ini sulit untuk diobati dapat terealisasi dengan benar dan harus berdasarkan jurnal ilmiah. Kami tidak ada maksud untuk mengubur penelitian Andraka, atau bahkan mempertanyakan realitas penemuannya. Penemuan ilmiah, terutama medis tidak semata-mata hanya berdasarkan laporan jurnalisme yang sensasional, dan setiap inovasi medis harus serius dipertimbangkan dan mendapatkan pengakuan dari para ahli sebelum dilemparkan ke publik.

Andraka menjelaskan kepada Huffington Post pada 2015, apa yang dilakukannya baru sebatas uji praklinis dan ditragetkan alatnya akan dipasarkan 10 tahun ke depan. Jika Jack Andraka memiliki kemampuan sebagai peneliti muda dengan ambisi yang menjanjikan, ia tetap harus melewati proses yang panjang untuk dapat memvalidasi hasil pekerjaannya.



Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

Referensi
Forbes (Wait, Did This 15-Year-Old From Maryland Just Change Cancer Treatment?)
Forbes (Why Biotech Whiz Kid Jack Andraka Is Not On The Forbes 30 Under 30 List)
Institut Cancer Francis (Diagnosis kanker pankreas)
Situs resmi Jack Andraka (About Jack)


Emoticon Emoticon