02 February 2017

Tentang Aksan, Anak yang Salah Sebut Ikan Tongkol


Ilustrasi. (Sumber Foto: Pixabay)


Anda pasti masih ingat dengan video yang sangat viral beberapa hari ini tentang seorang anak yang secara tidak sengaja salah menyebutkan nama ikan tongkol saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bapak Jokowi Widodo, Presiden RI, pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Januari 2017 yang baru lalu.

Banyak orang mentertawakan saat AR, anak kecil dengan seragam SD itu, salah mengucapkan kata ikan tongkol dengan menyebut nama kelamin pria. Tertawaan mereka ada yang bersifat refleks karena merasa lucu, tapi ada juga yang berkomentar negatif, menganggap AR sebagai anak kecil yang terbiasa mengucapkan kata-kata tak pantas.

Beberapa hari kemudian, beredar pesan berantai yang diklaim ditulis oleh Anni Albayan. Sekoci belum menemukan data siapakah beliau.

(Update: Bu Anni adalah seorang guru, kompasianer dan blogger)

Berikut isi pesan berantai tersebut:

*Mentertawakan Kemalangan Saudara Sendiri*

Bapak Ibu pernah melihat video berdurasi singkat ikhwal anak SD yang menjawab pertanyaan Pak Presiden tentang nama-nama ikan? Viral banget yaa...

Video ini sukses membuat jutaan pemirsa di Indonesia ngakak guling-guling saat mendengar jawaban sang bocah yang lugas dan teramat polos. Jawaban itu tak lain adalah nama ikan yang seharusnya adalah ikan *Tongkol*, namun dilafalkan terbalik menjadi nama alat vital laki-laki dalam bahasa Sunda/Jawa. 

Dan sang pengunggah video inipun menuai jutaan klik yang artinya adalah mengalirnya sejumlah uang ke dalam pundi-pundinya.

Saya termasuk yang sempat tersenyum simpul saat mendapat share video ini, asli sama sekali tidak mengetahui latar balakang pembuatan video ini, dan siapa bocah polos berseragam putih merah yang sanggup memancing tawa dan senyum bahkan bapak Presiden RI.

Namun betapa menyesalnya saya, setelah saya mengetahui siapa adik cilik nan lucu ini. Ternyata ia adalah Akhsan, seorang anak penyandang *difabel Dyslexia* (penderita kesulitan berbicara/membaca/mengucapkan kata-kata yg mirip) yang baru satu minggu mengikuti terapi, dan Akhsan adalah seorang *anak yatim piatu* . 

Menurut Noviana Dibyantari, Koordinator Komunitas Difabel Semarang, Akhsan setiap hari menulis surat pada Ibunya. 
Surat yang tak kunjung berbalas tentu saja. Akhsan kecil terus saja melakukan itu, karena ia tak mengerti bahwa Mamanya telah tiada.

Jadi teman-teman, Bapak Ibu, mari berhenti menshare video ini, karena ada bocah kecil malang yang nantinya akan terus ditertawakan. Akhsan itu saudara kita, anak Indonesia yang harus dibantu dan disayangi, alih-alih dijadikan bahan olok-olok karena kekurangannya. 

- Bu Anni Albayan -

Rasa skeptis membuat Sekoci ingin mengetahui lebih jauh tentang siapakah Aksan dan apakah betul ia menderita disleksia.

Dari artikel Kompas kami mendapat informasi bahwa AR adalah murid kelas III SD sebuah sekolah pesantren di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Baru setahun belakangan ini AR dititipkan di pesantren tersebut. Sebelumnya, dia adalah murid di SD 12 Pagi Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia dipindahkan ke pesantren agar mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

AR sebelumnya tinggal di rumah eyangnya, Elly (69), bersama pamannya yang bernama Dimas (28), di kawasan Sumur Batu.

Sejak lahir, AR sengaja dititipkan ayah dan ibunya di rumah Elly karena kondisi ekonomi kedua orangtuanya yang saat itu sedang kesulitan. Ayah AR juga sedang dirundung masalah. Kini AR memasuki usia sepuluh tahun.

Kedua orangtua AR hidup terpisah. Ayahnya membawa si sulung, sedangkan ibunya yang berasal dari Jawa Timur membawa adik AR yang bungsu. Hidup AR hampir sepenuhnya ditanggung eyang dan pamannya.

Dimas mengatakan bahwa AR anak yang sehat. Ia yakin AR tidak sengaja melakukan kesalahan saat menyebut nama ikan. Dimas menambahkan bahwa AR memang tak lancar dalam berbicara. Ia juga kurang sempurna dalam mengucapkan huruf R. Kendati demikian, selama hidup bersama, Dimas tak pernah mendengar AR berkata-kata kasar.

Benarkah AR menderita disleksia?

Sekoci menghubungi Ibu Noviana Dibyantari, Koordinator Komunitas Difabel Semarang. Nama beliau terdapat pada pesan berantai yang ditulis oleh Anni Albayan.

"Saya tidak kenal Anni Albayan. Saya tidak menemukan akun media sosialnya dan tidak pernah dikonfirmasi soal cerita Aksan ini," kata beliau pada Sekoci (1/2/2017).

Ibu Novi menjelaskan bahwa cerita tentang Aksan bermula dari cerita fiksi yang ditulis oleh Cecilia Gandes di akun Instagramnya.

Berikut kami salin cerita yang ditulis oleh Cecilia Gandes agar klarifikasi ini benar-benar jelas.

Ibu, paji tadi aku dapat sepeda. Dari Pak Presiden. Aku dikasih sepeda karena disa jawab pertanyaan soal ikan. Aku sebutin 3 nama ikan. Bi atas pangjung. Aku bilanj, ikan pak us, teri, dan ikan kongtol. Jawaban aku sudah denar, kan Bu? Tapi, teman-teman dan Oranj-oranj bi depan pangjung, kok ketawa semua? Pak Presiden tanya laji, pabahal jawabanku udah benar, kan Bu? Aku sebutin laji. Ikan teri, ikan pak us, ban ikan kongtol. Terus, mereka ketawa makin kenceng. Aku jak salah, kan Bu? 

"Suratnya sudah siap dimasukkan ke dalam kotak, Aksan?" tanyaku usai membaca tulisan Aksan yang ditujukan untuk ibunya. Sebelum surat dimasukkan ke dalam kotak, memang bocah 7 tahun ini selalu memintaku untuk membaca ulang tulisannya. Meminta pendapat, adakah penulisan yang masih keliru. Selaku pembina panti asuhan, aku bisa melihat perkembangan Aksan dari tulisannya. Terapi yang baru dijalankan selama 1 minggu memang belum membawa perubahan signifikan untuk mengatasi disleksia yang ia alami. Pada anak dengan problem bicara atau berbahasa, bisa jadi yang ada di otaknya adalah menyebut kata yang dimaksud, tapi saat dikeluarkan dalam bentuk ucapan, malah jadi kata yang berbeda, Aksan belum bisa memahami ini. Tapi, apakah mereka yang tertawa bisa memahami Aksan? 

"Kak, desok aku mau tulis surat laji buat Ibu. Mau cerita soal srepatu baru ya..."

Aksan memang tak pernah berhenti menulis surat untuk Sang ibu meski ia sendiri sudah paham bahwa suratnya nanti hanya bermuara di kamar. Tidak ada Pak Pos yang bisa mengantarkannya ke surga.

(Mendapat perspektif lain dari cerita Mba @ajengkristianti dan sebuah artikel berita tentang viralnya ikan tongkol membuat saya merasa bersalah karena sudah ikut tertawa)

Disclaimer:
Cerita ini hanya fiksi belaka. Saya terinspirasi dari link berita 
"Memahami Anak yang terpeleset Omong Saat Bicara di Depan Umum"

Ibu Noviana Dibyantari membagikan ulang cerita fiksi yang ditulis Cecilia disertai ajakan untuk mengenali anak-anak berkebutuhan khusus di sekitar kita. Ibu Novi menyatakan bahwa disleksia bukan untuk guyonan, apalagi sampai dibully.

Pada awalnya Ibu Novi tidak mengetahui bahwa cerita tentang Aksan adalah fiksi karena screenshot yang beredar memang tidak sampai pada bagian disclaimer yang menjelaskan bahwa cerita tentang Aksan adalah fiksi belaka. Beliau telah mengklarifikasi mengenai hal ini pada akun Facebooknya.

Namun, apa pun cerita yang melatari Aksan, Ibu Novi  mengajak untuk stop membagikan videonya dan belajar memahami ciri-ciri anak berkebutuhan khusus supaya tidak terjadi bullying.

"Seringkali kita sadar atau tidak telah melakukan kekerasan pada anak-anak, baik melalui verbal dan sikap. Hal itu membuat anak mengalami luka batin yang terbawa hingga mereka dewasa. Mari kita mencoba selalu memberikan perlindungan dan pengasuhan yang baik dimanapun kita jumpai anak-anak," pesan beliau.

Aksan, bukan nama sebenarnya.  Inisial namanya AR. Huruf A bukan berarti Aksan. Dia juga bukan anak yatim piatu, kedua orang tuanya masih hidup. Diperlukan pemeriksaan khusus untuk membuktikan bahwa dia menderita disleksia. Tapi yang pasti, sama seperti anak-anak lainnya, dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang, bukan cercaan dan tawaan.

Kesimpulan, cerita yang dibagikan oleh Anni Albayan adalah hoax. Cerita itu juga  dibuat tanpa konfirmasi kepada Cecilia dan Ibu Noviana Dibyantari.

Kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Noviana Dibyantari yang telah memberi pencerahan.



Salam Icokes!
Sekoci tidak hanya memberantas hoax tapi juga mengedukasi.

Baca juga:



1 komentar so far

Setahu saya, penyakit diskleksia sendiri merujuk pada kemampuan membaca anak, bukan kemampuan berbicara anak.


Emoticon Emoticon