15 January 2017

Tentang Teori Konspirasi Chemtrails


Teori konspirasi chemtrails telah lama bergulir dan kian liar dianggap sebuah ancaman besar bagi kelangsungan hidup manusia. Chemtrails mengacu pada teori bahwa pemerintah (AS) atau pihak lain terlibat dalam program rahasia untuk menambahkan bahan kimia beracun ke atmosfer dari penyemprotan pesawat dengan cara membentuk bulu putih yang terlihat di atas langit, mirip dengan contrail.

Rumor tentang chemtrails juga berkembang di Indonesia. Jejak chemtrails yang disemprotkan dari pesawat dikabarkan pernah terlihat di langit beberapa wilayah di Indonesia yang bertujuan untuk menyebarkan virus "flu burung" (H5N1) yang telah dimodifikasi. Teori konspirasi itu semakin berkembang liar menghubungkan chemtrails dengan isu yang berkembang saat itu. Namun semua tuduhan itu tidak pernah terbukti dan hanya omong kosong. Ketika jejak asap pesawat (contrail) terlihat di langit, lalu semua itu dihubungkan dengan chemtrails maka semua pesawat yang meninggalkan jejak contrail harus dimusnahkan, termasuk pesawat-pesawat komersial dan militer milik Indonesia.

Jejak Chemtrail di Langit Jakarta

Jejak Kimiawi (chemical trails/chemtrails) yang disemprotkan pesawat asing itu berisi aerosol bermuatan virus maut. Chemtrails disemprotkan di atas langit Jakarta untuk “mempersiapkan” warga Jakarta dan sekitarnya “menerima” virus flu burung (H5N1) yang telah dimodifikasi.

Sinyaleman adanya penyemprotan Chemtrails (jejak-jejak kimia) juga ada di langit Jakarta sejak tahun 2009 dan melalui pesawat tangker jet milik USAF mengarah pada sejumlah bukti awal.

Beberapa hari setelah penyemprotan chemtrail terakhir (Agustus sampai September 2010), jumlah pasien dengan keluhan infeksi pernafasan di Jakarta melonjak naik hingga 400 persen.

Pada Maret 2009, operasi intelijen di langit Jakarta dengan menggunakan sebaran chemtrails juga pernah terjadi. Saat itu, chemtrails disemprotkan di atas langit Jakarta juga melalui pesawat USAF adalah untuk “mempersiapkan” warga Jakarta dan sekitarnya “menerima” virus flu burung (H5N1) yang telah dimodifikasi.

Namun karena aliran angin pada saat itu adalah angin timur yang menuju ke arah barat laut, angin diatas Jakarta tersapu hingga ke arah Singapura. Kemudian tak berapa lama ditemukan kasus dan korban (victim) dari kasus flu burung (H5N1) di Singapura.

Penyemprotan Chemtrails melalui pesawat, selama ini dianggap sebagai upaya menurunkan daya tahan tubuh manusia, atau bahkan menyebarkan penyakit-penyakit berbahaya. Chemtrails bisa ditumpangi virus-virus atau zat-zat berbahaya. Misalnya, bromium yang dicampur dengan virus influenza.

Demikian pengamatan, mantan anggota angkatan udara Amerika AU AS (USAF) dan juga aktifis anti-chemtrail yang sangat prihatin atas fonomena chemtrail Jerry D Gray, menyikapi kurang awasnya pemerintah dan masyarakat Indonesia melihat penggunaan senjata biologi yang mengancam kedaulatan Indonesia.

“Pihak asing yang ingin ‘menguasai’ negara ini tidak perlu melakukan perang yang mahal. Tetapi, cukup dengan melemahkan kesehatan penduduknya melalui zat-zat kimia”, terang Jerry.

Penyebaran zat-zat kimia berbahaya sudah tentu berpotensi jangka panjang untuk melumpuhkan SDM Indonesia. Operasi depopulasi ini, juga diarahkan agar terjadi ketergantungan penduduk dengan obat-obatan kimia dari luar.

Dengan demikian secara ekonomi, industri farmasi luar akan bisa eksis dan semakin berkembang. Kecurigaan terhadap hal ini sempat diungkapkan mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari.

Tidak itu saja, melalui kehidupan sosial, generasi muda bangsa juga mendapat ancaman besar pelemahan “senjata biologi” non negara. Mereka diserang dengan zat-zat adiktif berbahaya, narkoba. Transaksi yang terjadi di Indonesia sungguh fantastis, 800 miliar perhari atau 292 triliun.

Ironisnya, regulasi kebijakan terkait sektor kesehatan juga terindikasi ada intervensi asing, adanya liberalisasi. UU kesehatan yang baru, nomor 36 tahun 2009 banyak memunculkan permasalahan antara pasien dan rumah sakit. Apalagi persoalannya, kalau bukan karena biaya mahal, salah satunya terkait dengan harga obat-obatan dari luar.

Sejalan dengan itu, Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, justru mendorong adanya liberalisasi farmasi di Indonesia.


Foto-foto klaim chemtrails di langit Indonesia. Sumber mengenalsecretsocieties.blogspot.co.id

Lokasi didekat kali Pemali, Brebes (Jateng), 19 Agustus 2013 (Foto : Sayyaf Mushab) 

Lokasi Situbondo (Jatim), 16 Juni 2011. (Foto Eka Sasdia Prasetya)

Lokasi Kediri (Jatim), 30 Juli 2013. (Foto: Shandyta Wildan)

Lokasi Cirebon (Jabar), 11 Agustus 2013. (Foto: Farhan Ardyansyah)

Lokasi Cirebon Utara (Jabar), 17 Agustus 2013. (Foto: Iravan Ardhi Permana)

Lokasi Kediri (Jatim), 18 Agustus 2013. (Foto: Shandyta Wildan)

Lokasi Bekasi Barat, 19 Agustus 2013. (Foto: Yuni Khumaira Azzahra)

Foto-foto di atas diklaim sebagai bukti penampakan chemtrails di berbagai daerah di Indonesia, namun teori itu tidak berdasarkan bukti empiris dan hanya berdasarkan asumsi teori chemtrails. Berbagai motivasi berbeda tentang penyemprotan chemtrails kian berspekulasi, termasuk sterilisasi, mengurangi populasi manusia, pengendalian pikiran ataupun kontrol cuaca.

Menurut laporan Harvard University, belum ada bukti kredibel tentang chemtrails. Jika memang kita melihat bukti bahwa pemerintah (AS) sedang berusaha membahayakan warga mereka sendiri dengan cara seperti yang dituduhkan dalam teori chemtrails, kita akan bersemangat untuk mengekspos dan menghentikan kegiatan tersebut.


Dalam laporannya, Harvard University menyatakan bahwa mereka telah melakukan penelitian dan bekerja pada proposal teoritis untuk memerangi pemanasan global yang disebut geoengineering surya atau modifikasi albedo. Teknologi ini adalah yang memungkinkan orang untuk menambahkan bahan ke atmosfer bumi untuk mencerminkan lebih banyak sinar matahari kembali ke angkasa, sebagian masking atau mengurangi perubahan iklim akibat akumulasi gas rumah kaca.

Studi geoengineering surya  masih dalam tahap awal dan topik ini (benar) wilayah yang sangat kontroversial dari kebijakan iklim karena jika pernah diuji pada skala besar atau dilakukan itu bisa melibatkan risiko fisik dan akan meningkatkan masalah sosial politik yang serius dan juga masalah etika. Namun, tidak ada rahasia tentang studi modifikasi albedo.

Teori konspirasi chemtrails berkembang karena memiliki kesamaan antara metode pelaksanaan yang diusulkan untuk modifikasi albedo (seperti menyuntikan partikel reflektif ke stratosfer), dan dugaan metode untuk memproduksi chemtrails, beberapa orang telah menghubungkan chemtrails dengan gagasan mempelajari modifikasi albedo.

Para pendukung teori ini banyak menawarkan penjelasan aneh seakan dunia sedang diambang kehancuran. Mereka yang berpendapat positif menyatakan bahwa tujuan chemtrails sebagai upaya untuk mengendalikan pemanasan global. Sedangkan yang berpikir negatif berpendapat bahwa chemtrail adalah upaya untuk mengurangi populasi manusia, manipulasi psikologis, pengujian senjata kimia hingga bertanggung jawab atas beberapa virus mematikan yang harus diterima manusia.

Klaim ini dimulai pada tahun 1990-an, sejak publikasi makalah penelitian Angkatan Udara AS tentang modifikasi cuaca. Kemampuan untuk mengubah cuaca bukanlah proses yang praktis. Penyemaian awan - dimana partikel seperti oksida perak disemprotkan ke awan untuk meningkatkan curah hujan - umumnya digunakan oleh negara-negara rawan kekeringan, dan merupakan bagian dari upaya pemerintah China untuk mengurangi polusi menjelang Olimpiade Beijing tahun 2008.

Adakah bukti keberadaan chemtrails? Klaim luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa. Klaim yang beredar menyatakan bahwa ada sebuah program rahasia yang sangat besar untuk menyemprotkan bahan kimia berbahaya dari pesawat. Namun semua bukti yang ditampilkan kesemuanya masih sangat lemah.

Klaim yang paling umum adalah hanya menyatakan bahwa jejak asap pesawat (contrail) yang terlihat "berbeda", namun tanpa analisis komparatif. Jika memang ada program dengan skala besar penyemprotan bahan kimia berbahaya dari pesawat, otomatis pasti akan ada juga program operasi besar untuk memproduksinya, beban dan menyebarkan bahan. Jika program tersebut memang ada, dibutuhkan penjelasan jumlah keseluruhan yang diklaim dari chemtrails, itu akan membutuhkan ribuan bahkan puluhan ribu orang.

Yang pasti akan sangat sulit untuk menyembunyikan sebuah program rahasia itu karena akan sangat mudah setiap individu mengungkapkan program itu ataupun menggunakan dokumen yang bocor, foto, perangkat keras yang sebenarnya. Selain itu, jika program itu dimaksudkan untuk membuat kerusakan kepada masyarakat - klaim yang selama ini dipercaya oleh para pecinta teori konspirasi chemtrails-maka orang-orang yang bekerja di program tersebut akan memiliki motivasi pribadi yang sangat kuat untuk menyelamatkan masyarakat hingga akan banyak orang yang mengungkapnya ke publik.

Pada tahun 2000, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan nasional AS, bekerja sama dengan Environmental Protection Agency (EPA), National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), untuk membuat laporan rinci yang ditujukan untuk menghilangkan rumor chemtrails.  EPA telah menerbitkan kembali dokumen itu pada 2015 .

Laporan tersebut berbunyi: "Mesin Pesawat memancarkan uap air, karbon dioksida, sejumlah kecil oksida nitrogen, hidrokarbon, karbon monoksida, gas sulfur, dan jelaga juga partikel-partikel logam, yang terbentuk oleh pembakaran suhu tinggi bahan bakar jet, selama penerbangan. Dari emittants ini, hanya uap air yang diperlukan untuk pembentukan contrail.

"Jika kelembaban tinggi (lebih besar dari yang dibutuhkan untuk kondensasi es terjadi), contrail akan terus-menerus. Partikel es baru terbentuk dan akan terus muncul dalam ukuran tertentu dengan mengambil air dari atmosfer sekitarnya. Yang dihasilkan berbentuk garis contrail hingga meluas untuk jarak luas di belakang pesawat terbang. contrails persisten dapat bertahan selama berjam-jam saat muncul sampai lebar beberapa kilometer dan 200 meter hingga 400 meter. Contrails menyebar karena turbulensi udara yang diciptakan oleh pergerakan pesawat, perbedaan kecepatan angin sepanjang jalur penerbangan, dan kemungkinan melalui efek pemanasan matahari."

Kesimpulan: Teori konspirasi chemtrails bukan hanya melanda AS, namun juga menyebar di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Teori yang berkembang adalah bentuk chemtrails mirip dengan contrails, namun contrails tahan lama dan dalam bentuk normal, sedangkan chemtrails dalam formasi garis grid dan cenderung tidak beraturan juga cepat menghilang. Teori itu tidak mendasar hanya menilai berdasarkan asumsi tanpa bukti empiris, terlalu mengada-ngada dan tidak masuk akal untuk sebuah keyakinan ilmiah.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!

Referensi

Skeptic Project (Chemtrails debunked)
Harvard University (Chemtrails Conspiracy Theory)
Telegraph (‘Chemtrails’ and other aviation conspiracy theories)
Wikipedia (Chemtrail conspiracy theory)
Metabunk (Contrails and chemtrails)
Contrail Science (How to Debunk Chemtrails)
Skeptic Forum (How About Chemtrails)


Emoticon Emoticon