27 January 2017

Mitos Seputar Mi Instan


Ilustrasi. (Foto Sekoci/Ivone Suryani)


Kekhawatiran akan kandungan lilin dalam mi instan membuat banyak orang selalu membuang air rebusan mi instan sebelum dikonsumsi. Kemudian beredar pula rumor yang cukup mengkhawatirkan bahwa mi instan bisa memicu munculnya kanker, usus bocor dan merusak liver. Benarkah demikian?



Menurut ahli nutrisi Susana, SPT, MSc, tidak benar jika dikatakan bahwa mi instan mengandung lilin. "Karena proses penggorengan dalam pembuatannya, maka kalau kita merebus mi, airnya jadi keruh. Orang bilang itu karena lilin, padahal itu karena minyak dan karbohidrat, tepung-tepungnya keluar," ujar ahli nutrisi yang mengambil studi dari Biotechnology-specialization Food Tech and Bioprocess Technology Wageningen University, Belanda, ini.

Susana mengatakan, mi instan dibuat dengan cara digoreng sampai kering, sampai kadar airnya tidak ada lagi. Dengan demikian, mi instan menjadi lebih tahan lama.

Prof. Dr. F. G. Winarno, ahli pangan dan penulis buku tentang mi instan, juga menjelaskan kalau rumor ini tidak benar. "Teknologi produksi mi instan tidak pernah menggunakan lilin. Mi instan awet dan tahan simpan karena proses pembuatannya, antara lain dengan cara penggorengan atau deep frying yang membuat kadar air mi instan menjadi sangat rendah, sekitar 5 persen, sehingga tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup dan berkembang biak. Karena kadar air yang sangat rendah tersebut, mi instan bersifat sangat awet. Karena proses deep frying tersebut menggunakan minyak goreng, tidaklah aneh kalau sewaktu memasak mi instan terlihat berminyak. Tapi tidak mengandung lilin karena lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Dan itu terdapat pada makanan seperti apel dan kubis," sambungnya.

Mengenai rumor bahwa mi instan berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker jika dipanaskan di atas 120 derajat celcius, Prof. Dr. F. G. Winarno mengatakan  hal itu tidak benar. "Mi instan kering merupakan produk setengah matang. Disebut instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih. Biasanya kurang lebih 100 derajat celsius dalam waktu kurang dari 5 menit. Kita juga tidak perlu memisahkan bumbunya saat memasak mi. Jadi, suhunya bukan 120 derajat celsius, di mana suhu tersebut baru dapat dicapai bila menggunakan pressure cooker atau retort untuk strelisasi dalam proses pengalengan pangan." 

Prof. Dr. F. G. Winarno menambahkah, memasak mi instan juga tidak perlu menggunakan metode dua air terpisah karena air rebusan pertama justru mengandung betakaroten yang tinggi. Semua vitamin, mulai dari minyak dan bumbu yang larut dalam air, terdapat dalam air rebusan pertama ketika memasak mi. Jika air rebusan tadi diganti dengan air matang baru, justru vitaminnya hilang. Selain itu, minyaklah yang membuat mi menjadi lebih enak. Jadi, air rebusan pertama tidak perlu dibuang karena kandungan betakaroten juga tocoferol dalam minyak sangat memenuhi kebutuhan gizi.

Ilustrasi. (Foto Sekoci/Ivone Suryani)


Isu lain yang berkembang adalah penggunaan MSG pada mi instan yang dapat menyebabkan usus bocor dan merusak liver. Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai hal ini, Badan POM memberikan penjelasan sebagai berikut:

  1. Beberapa bahan kandungan mi instan yang diisukan berbahaya adalah monosodium glutamat, methyl p-hydroxybenzoate, dan asam benzoat.
  2. Monosodium glutamat (MSG) adalah penguat rasa yang memiliki Acceptable Daily Intake (ADI) not specified, artinya bila dikonsumsi setiap hari dalam jumlah wajar tidak menimbulkan bahaya terhadap kesehatan. Namun ada beberapa data yang menunjukkan bahwa beberapa orang tertentu sensitif terhadap MSG.
  3. Methyl p-hydroxybenzoate atau metil parahidroksibenzoat atau metil paraben adalah pengawet yang diizinkan digunakan dalam produk pangan dengan jumlah tertentu. Metil paraben digunakan untuk mengawetkan kecap yang merupakan bumbu pelengkap pada mi instan varian tertentu. Beberapa negara, seperti Taiwan, tidak mengatur penggunaan metil paraben dalam mi instan, walaupun dalam regulasinya diatur pengawet lain dalam produk mi instan dengan tingkat keamanan mirip dengan metil paraben, yaitu etil paraben, propil paraben, butil paraben, isopropil paraben dan isobutyl paraben dengan batas maksimum yang ditentukan 
  4. Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah sahih, yang menyatakan bahwa baik MSG ataupun metil paraben dapat merusak usus, liver ataupun sakit maag.
  5. Terkait point-point diatas, diharapkan masyarakat tidak resah dan meragukan keamanan mi instan yang beredar di Indonesia. Konsumsilah mi instan dengan bijak.


Untuk mengetahui apakah mi instan layak dikonsumsi atau tidak adalah dengan memperhatikan secara seksama izin dari BPOM RI, kandungan bahan, tanggal kadaluarsa dan pastikan kemasannya tidak rusak.

Jika Anda penggemar mi instan, jangan lupakan asupan buah, sayuran dan protein agar gizi Anda seimbang.

Ketidakseimbangan gizi inilah yang sebenarnya menimbulkan berbagai masalah atau penyakit. Bahkan pada anak-anak yang gemar makan mi instan, kebiasaan buruk seperti ini lantas dikaitkan dengan makan mi instan. Padahal, pola makan tidak seimbang yang menyebabkan pertumbuhan anak terganggu.

Salam Icokes, Sekoci Hoaxes!

Baca juga:




Emoticon Emoticon