09 January 2017

Benjamin Franklin Hoaxer Seni Satir


Ketika Anda mendengar hoaxers mungkin berpikir bahwa mereka adalah tokoh antagonis yang harus diperangi karena banyak menyebarkan kebohongan publik. Namun, hoax yang Anda kenal saat ini tidak lepas dari perjalanan sejarah hoaxers di masa lalu, Benjamin Franklin adalah salah satu hoaxer terkenal dari abad ke-18.

Benjamin Franklin terlahir dari orangtua yang miskin pembuat lilin dan sabun, namun dengan kerja keras dan kecerdasannya Franklin mampu bangkit dan menjadi salah seorang yang paling dikagumi pada abad ke-18. Franklin adalah seorang hoaxer yang cukup disegani pada masanya, ia menggunakan hoax sebagai seni satir. Banyak orang di abad kedelapan belas, terutama elit terdidik di Eropa dan Amerika, percaya bahwa kebenaran ditemukan harus dengan menggunakan akal, melalui penerapan prinsip-prinsip yang ditemukan melalui ilmu pengetahuan, observasi, dan eksperimen. Dalam "A Witch Trial at Mount Holly", Benjamin Franklin menegaskan bahwa keutamaan alasan dia menggunakan satir adalah upaya untuk mereka yang akan mencari kebenaran melalui takhayul dan irasionalitas.

Satir yang digunakan Franklin sebagai sindiran yang ditujukkan kepada kalangan elit yang mengarah kepada emosionalisme agama, yang mereka sebut antusiasme, orang-orang yang terjebak dalam semangat kebangkitan antusiasme.

Selain menjadi seorang hoaxer, Franklin dikenal cukup cerdas sebagai filsuf, ahli ilmu, negarawan, dan sastrawan. Sama seperti tokoh sastra abad kedelapan belas lainnya, seperti Jonathan Swift dan Daniel Defoe, ia menggunakan hoax untuk tujuan satir, untuk mengekspos apa yang dianggap sebagai kebodohan dan mewakili nilai penting dari kecaman publik.

Upaya Franklin dan hoaxers lainnya memberikan pencerahan untuk mengatasi opini publik melalui hoax dengan mengungkapkan tentang pentingnya peningkatan yang ditempatkan pada opini publik (dan gagasan demokrasi) selama periodenya.

Franklin adalah seorang master seni dengan konsep yang berbeda dan unik dalam menyampaikan pemikirannya. Sebuah gambar dari dirinya yang disajikan kepada dunia, menunjukkan seorang dari pedesaan Amerika yang sederhana namun bijaksana dengan mengenakan topi kulit rakun. Gambar itu merupakan salah satu kedustaan pesona Franklin yang menipu publik, kenyataannya ia adalah salah satu tokoh yang paling terdepan, pria kosmopolitan di eranya.


Franklin mengembangkan gaya satir dengan tulisan yang menyangkut isu-isu politik, individu, dan sosial di zamannya. Gaya satir Franklin sangat menghibur walaupun dianggap mengolok-olok namun membawa pesan positif dalam kritikan sebagai evaluasi. Karya satirnya sangat menghibur membuat orang tertawa dan juga berpikir.

Hoax satir yang digunakan Franklin sangat efektif dalam menyampaikan isi pesan yang terkandung, mungkin ada pihak yang tersinggung namun satirnya menyimpan nilai-nilai postif sebagai kritik untuk membangun. Ia banyak menulis tentang satir cerdas dalam memahami sisi lain dari kehidupan manusia. Ia berbagi kebijaksanaan dan rasa humor secara bebas dengan gayanya yang menghibur.

Sejatinya Franklin adalah seorang penulis satir komedi, banyak karya yang telah ia ciptakan dan menjadi sangat terkenal. Apa yang dilakukan Franklin atas semua pencapaiannya ternyata memiliki masalah lain, satir adalah instrumen miskin persuasi, untuk mereka yang berpikiran terbuka kemungkinan akan merasa terhibur - kaget, percaya, dan mungkin juga hampir marah, ia menyadari akan semua resiko bahaya itu.

Dalam salah satu karya esai satir "An Edict by the King of Prussia", ia berharap untuk menyoroti pada keluhan kolonial agar mendapatkan ganti rugi, dia menyadari bahwa efek lainnya mungkin dapat membuat masalah lebih buruk. Pemerintah saat itu tidak berani mengakui serangan Franklin karena takut mengakibatkan publisitas yang lebih besar.

Franklin memiliki cara jenius dalam memberikan kritik tajam dari aturan yang berlaku dengan cara hoax satir humor, sekarang ini banyak orang yang mengikuti gaya Franklin dan menjadi budaya satir humor. Banyak situs-situs satir di internet mengembangkan gaya hoax satir Franklin, seperti Onion dan Huzler.

Franklin adalah seorang Deisme, bentuk sebuah penganut kepercayaan yang pada saat itu populer dikalangan elit pelajar, yang menempatkan iman sebagai kekuatan utama dan alasan untuk menolak supranatural. Dalam tulisannya "A Witch Trial at Mount Holly" yang diterbitkan pada 22 Oktober 1730 dalam edisi The Pennsylvania Gazette, salah satu surat kabar yang paling populer di jaman kolonial Amerika, ia melakukan tipuan sastra menanggapi situasi yang terjadi.


Narasi singkat menjelaskan tentang usaha masyarakat di sebuah kota kecil New Jersey untuk menemukan seorang pria dan wanita yang dituduh sebagai penyihir, mereka dituduh membuat domba menari dan babi bernyanyi dengan menggunakan sihir. Dalam persidangan yang normal hanya terdakwa menjadi tertuduh, tapi dalam kasus ini terdakwa membuat kesepakatan untuk menempatkan penuduh sebagai tersangka untuk juga diadili.

Akhirnya masyarakat memutuskan dengan melakukan dua tes, pada tes pertama laki-laki dan perempuan akan ditimbang secara individual terhadap kebesaran Alkitab. Jika melebihi mereka, mereka adalah penyihir; jika timbangan mereka berat, mereka mereka bukan penyihir. Dalam tes kedua mereka akan dilemparkan ke dalam air. Jika mereka tenggelam, mereka tidak bersalah; jika mereka mengapung, mereka bersalah. Dalam menentukan terdakwa dengan menggunakan tes membuat proses pengadilan mengurangi nilai-nilai kebenaran dan lebih condong ke percobaan rasional untuk melihat seberapa baik dari skala air dan mendeteksi kebajikan.

"Setengah kebenaran yang sering adalah kebohongan besar." 

"Lebih baik pergi tidur tanpa makan malam daripada bangun tidur dengan hutang."

"Waktu adalah uang."

"Pujian yang tidak layak adalah sindiran parah."

"Para tamu, seperti ikan, mulai berbau setelah tiga hari."

"Tipuan dan pengkhianatan adalah praktek bodoh, yang tidak memiliki otak yang cukup jujur."

"Setiap orang bodoh bisa mengkritik, mengutuk, dan mengeluh dan kebanyakan orang bodoh begitu."

" Dosa tidak berbahaya karena dilarang, tetapi dilarang karena berbahaya."


Benjamin Franklin adalah founding father of satire, setiap tipuan satirnya bukan bertujuan untuk menyesatkan namun menguak sisi lain dari kehidupan sebagai evaluasi diri. Terkadang hoax tidak selamanya berkonotasi negatif, ada juga hoax positif yang memiliki nilai edukasi, seperti hoaxer Benjamin Franklin. Bahkan sejarah kedokteran gigi pernah mencatat asal usul gigi emas berawal dari tipuan pada tahun 1593, dimana seorang anak mengaku memiliki gigi emas sejak lahir. Tipuan itu akhirnya bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedokteran gigi dan didokumentasikan sebagai sejarah awal dari terciptanya "gigi palsu" yang sekarang banyak kita temui.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!

Referensi

Museum of Hoaxes (Hoaxes of Benjamin Franklin)
America in Class & Amerika in Class pdf (Benjamin Franklin’s Satire of Witch Hunting)
Columbia General Studies (Franklin Funnies)
National Archives (Rules by Which a Great Empire May Be Reduced to a Small One, 11 September 1773)



Emoticon Emoticon