03 December 2016

[Mitos VS Fakta] Banteng Membenci Warna Merah


Sebuah mitos lama telah banyak dipercaya yang menyatakan bahwa banteng akan sangat marah jika melihat warna merah. Seorang matador dalam aksinya selalu mengibaskan Muleta (tongkat dengan kain merah yang tergantung yang digunakan matador dalam pertunjukan adu banteng) untuk memancing kemarahan banteng, di situlah mitos mulai tertanam seakan warna merah adalah penyebab banteng menjadi marah.

Kepercayaan yang beredar pada umumnya menyatakan bahwa banteng sangat membenci warna merah dan akan mengejar siapa saja yang menggunakan pakaian berwarna merah. Banyak peringatan untuk tidak menggunakan pakaian berwarna merah ketika berada di suatu tempat yang kemungkinan besar banteng berada.

Mitos banteng dan warna merah banyak dipercaya secara turun menurun hingga menjadi doktrin di masyarakat. Klaim yang sangat populer itu kenyataannya adalah palsu, banteng sebenarnya buta warna. Banteng sejatinya sama seperti sapi jantan tidak dapat membedakan warna, apalagi hanya mengenal warna merah itu hanyalah omong kosong.

Apa yang membuat banteng marah?


Ilustrasi

Dalam setiap aksinya matador mengibaskan Muleta untuk memancing banteng agar menghampiri dan menjadi liar. Ketika matador secara aktif dan berulang mengibaskan  Muleta, banteng akan menjadi marah terpancing gerakan. Seorang matador dalam mengibaskan Muleta hanya tangannya yang bergerak, bagian badan harus diam  karena banteng akan bereaksi pada gerakan yang ada di hadapannya, bukan warna merah.

Pada tahun 2007, program Discovery, Channel MythBusters, telah menguji banteng hidup dengan warna merah dan gerakan, dalam tiga percobaan terpisah dengan menggunakan kain (Muleta) warna merah, biru, dan putih. hasil pengujian itu menyimpulkan bahwa reaksi banteng akan semakin agresif bukan disebabkan oleh warna merah, namun gerakan (kibasan/kepakan) Muleta.

Banteng akan bergerak menghampiri objek yang bergerak paling aktif di hadapannya dalam jangkauan penglihatan. Yang perlu dicatat bahwa banteng yang digunakan dalam pertunjukan adu banteng berasal dari keturunan yang sangat agresif, mereka dibesarkan dan dilatih untuk selalu marah jika melihat gerakan tiba-tiba dari Muleta oleh sang matador hingga menjadi sebuah serangan yang menegangkan agar pertunjukan lebih menarik.

Jadi, jikapun menggunakan Muleta dengan warna selain merah maka banteng tetap bereaksi agresif hingga menyerang. Matador Spanyol telah menggunakan jubah kecil berwarna merah sejak tahun 1700-an, warna merah adalah bagian dari seragam adu banteng tradisional. Sejak saat itu tampaknya masyarakat mulai mengabadikan mitos warna merah sebagai penyabab banteng menjadi marah dan liar. Dalam kebenyakan kasus, Muleta merah hanya digunakan pada tahap akhir ketika banteng dibunuh oleh matador, kain Muleta berwarna merah membantu menutupi darah banteng agar tidak terlalu terlihat yang dapat mengakibatkan kesan kekejaman terhadap binatang.

Sketsa Muleta (Cape) matador bisa bekerja untuk senjata (Gambar: Jose Lopez / Desoluz inc)

KESIMPULAN

Mitos yang selama ini dipercaya bahwa warna merah penyebab banteng menjadi marah adalah tidak benar. Banteng tidak dapat membedakan warna alias buta warna, gerakan dari Muleta yang dikibaskan sang matador menyebabkan banteng bereaksi menjadi liar dan menyerang.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!

Referensi
Live Science (Why Do Bulls Charge When they See Red?)


Emoticon Emoticon