15 December 2016

Fakta dan Propaganda Konflik di Suriah


Dibalik konflik perang di Suriah juga menyembunyikan perang media dunia yang banyak melancarkan berita propaganda dengan memanipulasi informasi. Situasi di Suriah sangat rumit hingga masyarakat dunia mengetahui informasi hanya dari outlet berita, banyak berita propaganda yang menguntungkan pihak pemerintah Assad dan dari pihak pemberontak juga tidak ketinggalan ikut bermain dalam memanipulasi informasi.

Sebuah video "Seorang wartawan selama dua menit membongkar retorika dari media lokal di Suriah"  beredar luas dan menjadi viral sejak pertama dipublikasikan pada Rabu 13 November 2016. Jurnalis Eva Bartlett dalam konferensi pers selama 2 menit memaparkan tentang kualitas media dalam menciptakan mitos untuk menipu dunia akan konflik di Suriah.

                                         

Pembahasan di sebuah konferensi pers dengan tema "melawan proganda dan rezim perubahan di Suriah", yang diselenggarakan oleh Utusan Tetap Republik Arab Suriah untuk PBB. Wartawan dan aktivis internasional diundang dalam acara tersebut, penyelenggara konferensi mencoba "membantu untuk mencerminkan realitas yang sebenarnya apa yang terjadi di Suriah".

Salah satu yang hadir adalah wartawan Kanada Eva Bartlett, ia sudah beberapa kali mengunjungi Suriah dalam rangka mengumpulkan informasi kesaksian langsung dari para penduduk di daerah konflik sejak tahun 2014 dan ia juga sebelumnya beberapa tahun bekerja di Gaza.

Dalam konferensi tersebut,  Eva Bartlett diminta oleh rekan media Norwegia untuk memaparkan tentang bagaimana media mainstream dunia menyajikan berita tentang konflik di Suriah. Eva secara gamblang membongkar dan meruntuhkan mitos krediabilitas dari kualitas berita yang selama ini tersemat pada media (khusus berita konflik Suriah).

Jurnalis lepas Eva Bartlett diberikan pertanyaan oleh seorang wartawan  Norwegia tentang konflik Suriah, ia mulai merespon dengan tajam. Eva mengatakan "tidak ada" organisasi terpercaya hadir di Aleppo Timur, sehingga media barat tidak akan mendapatkan informasi yang dapat dipercaya tentang wilayah ini. Organisasi itu termasuk Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (OSDH) dan "White Helmets" (Sebuah organisasi di Suriah dari pertahanan sipil yang dinominasikan untuk meraih Nobel perdamaian dunia tahun 2016).

Baca juga: Kebohongan Eva Bartlett Menuduh White Helmet Melakukan Rekayasa Penyelamatan Anak Korban Konflik Suriah

Berikut beberapa informasi palsu seputar konflik Suriah:

Gambar Palsu Anak Suriah Berjalan Diantara Mayat Keluarganya

"Seorang gadis kecil berjalan untuk tetap bertahan hidup, seluruh keluarganya tewas, ini bukan film Hollywood, ini adalah realitas di Suriah," caption untuk sebuah gambar yang telah dishare ribuan kali ke media sosial, terutama di Twitter pada tanggal 13 Desember (post itu sekarang sudah dihapus).


Klaim bahwa gambar itu menunjukan seorang anak gadis Suriah berjalan diantara mayat keluarganya yang tewas tidaklah benar. Gambar itu diambil dari potongan video klip dari penyayi Lebanon Hiba Tawaji pada tahun 2014. Informasi tentang gambar yang menyatakan seorang gadis Suriah berjalan diantara mayat keluarganya yang tewas akibat konflik di Suriah merupakan kesalahan informasi yang dimaksudkan untuk menciptakan sebuah pembenaran dari satu sisi.

                                            

Tipuan Rumah Sakit Terakhir di Aleppo Dihancurkan

Banyak argumen muncul terutama dari pro-Assad di Perancis, sebuah manipulasi informasi ditebarkan yang menyatakan bahwa "rumah sakit Allepo terakhir dihamcurkan". Seorang anggota partai Djordje Kuzmanovic menyindir hancurnya rumah sakit Aleppo dalam cuitannya di Twitter "Rumah sakit Aleppo hancur lima belas kali dalam enam bulan".


Media online Indonesia juga banyak yang memberitakan tentang hancurnya rumah sakit "terakhir" di Alepo pada November 2016. Berikut berita dari liputan6.com dan outlet berita lainnya.

Rumah sakit yang tinggal satu-satunya tersisa di Aleppo timur hancur lebur oleh serangan udara pada Sabtu 19 November 2016. Akibatnya lebih dari 250 ribu penduduk harus hidup tanpa akses kesehatan .

Empat rumah sakit pada hari Jumat lalu juga dibom dan terpaksa tutup. Kota yang menjadi basis pemberontak rezim Bashar al-Assad itu sengaja ditargetkan oleh pemerintah Suriah beserta koalisinya, Rusia.

"Mereka secara konsisten menyerang rumah-rumah sakit dalam beberapa hari terakhir," jata David Nott, seorang ahli bedah yang telah berpengalaman menjadi dokter perang selama berpuluh-puluh tahun. Dia juga mendukung para dokter di Aleppo.

"Selama karier saya, saya tak pernah melihat serangan yang sedemikian brutal seperti itu. Rumah sakit Aleppo, jasad bercampur dengan mereka yang masih hidup," kata Nott seperti dikutip dari The Guardian Minggu (20/11/2016).

Setidaknya ada dua dokter tewas dalam serangan terakhir. Nott khawatir, tak hanya di Aleppo, namun seluruh Suriah, rumah sakit menjadi sasaran penyerangan sehingga tak ada lagi akses kesehatan bagi penduduk.

"Sangat tidak lazim melihat begitu banyak bom. Ini neraka. Kami kami hanya ingin menolong mereka yang terluka, ibu-ibu yang melahirkan, karena mereka tak bisa meninggalkan kota," kata Farida, dokter di tenggara Aleppo,

"Tak ada yang peduli dengan kami, kami hanya Sunni Arab yang tinggal di Aleppo. Tak ada lagi kemanusiaan," tambahnya.

Medicins Sans Frontiers mengatakan rumah-rumah sakit di timur Aleppo telah dibom dalam 30 serangan terpisah semenjak pengecilan berlangsung pada Juli lalu. Dan tak ada kemungkinan untuk memberikan bantuan atau suplai obat-obatan.

Sekolah, jalan dan rumah juga telah dibom berulang kali sementara sekutu pemimpin Suriah Bashar al-Assad berusaha untuk mendorong masyarakat oposisi keluar dari kota. Dokter dan penduduk dalam Aleppo mengatakan persediaan tidak lebih dari dua minggu untuk makanan dan obat-obatan yang tersisa dalam kota.

Menjelang pemilihan AS, Rusia telah berjanji untuk melenyapkan apa yang tersisa dari pasukan anti-rezim dan masyarakat yang mendukung mereka, dan sebagai presiden terpilih Donald Trump mempersiapkan untuk mengambil alih Gedung Putih, Moskow makin kerap memberi ancaman.

Tak ada respons dari Washington yang telah mendukung pasukan oposisi dalam tiga tahun terakhir. Trump mengindikasikan akan menarik dukungan AS untuk para oposisi setelah pelantikannya pada Januari 2017 mendatang.


Olivier Berruyer, blogger ekonomi, politik, sosiologi dan lingkungan - yang sering membongkar teori konspirasi. Dalam tulisan di blog miliknya yang mengutip dari serangkaian cuitan di Twitter, ia mengumpulkan data Tweet "rumah sakit terakhir di Aleppo" selama beberapa bulan terakhir. Dalam tulisannya ia mengumpulkan Tweet tentang konspirasi rumah sakit di Aleppo, semua cuitan tidak jelas sumbernya yang dapat dijadikan validitas. Kecaman yang sama dari situs reseauinternational.net membuat pernyataan mengecam sebuah media hype.

Informasi tentang hancurnya rumah sakit di Aleppo yang beredar di media sosial berasal dari pesan yang datang dari seluruh dunia, yang tidak pasti berasal dari jurnalis. Informasi itu campur aduk dan tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Berruyer mengumpulkan data tentang infirmasi 'Rumah sakit di Aleppo' dan surat Departemen Kesehatan Kota "serangan sistematis yang menargetkan rumah sakit Aleppo" untuk dianalisis, rumah sakit yang hancur bukan yang terakhir seperti banyak berita yang beredar.

Dari dua puluh elemen informasi telah diidentifikasi oleh Berruyer dalam tulisannya, kurang dari setengahnya mengabarkan hancurnya rumah sakit yang tersisa di Aleppo sebelum bulan November. Fakta lainnya terungkap bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa semua rumah sakit di Aleppo telah dikuasai pemberontak.

Informasi tentang rumah sakit terakhir yang hancur di Aleppo sangat berlebihan dan merupakan bagian propaganda pemerintah Suriah dari konflik yang terjadi di Suriah. Memang benar banyak rumah sakit di Aleppo hancur, namun informasi yang banyak beredar pada November lalu tidak benar bahwa rumah sakit yang hancur adalah satu-satunya yang tersisa di Aleppo. Rumah sakit adalah simbol kemanusian yang dianggap sangat dramatis untuk dijadikan propaganda di Suriah, banyaknya rumah sakit yang dijadikat target serangan bom membuat informasi yang berkembang lebih dramatis dan dimanipulasi untuk kepentingan propaganda. 

Pemerintah Suriah Melakukan Pembelaan Dengan Menggunakan Foto Salah




Bashar Jaafari, Duta Besar Suriah untuk PBB dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Selasa,13 Desember 2016, ia membantah atas tuduhan kekerasan terhadap warga sipil oleh pasukan militer pemerintah Suriah. Sambil menampilkan sebuah foto yang menunjukan tentara Suriah membungkuk memberikan tubuhnya sebagai pijakan untuk wanita sipil, ia mengatakan "ini adalah apa yang dialami tentara Suriah di Aleppo".


Berdasarkan laporan dari BuzzFeed, Foto yang dittampilkan Bashar Jaafari untuk mencari pembenaraan bahwa seakan militer Suriah sangat mengahargai rakyatnya hingga rela tubuhnya dijadikan pijakkan oleh rakyat sipil, faktanya foto itu keluar dari konteks. Foto itu bukan tentara Suriah, tetapi pasukan milisi mobilisasi Irak yang tengah membantu seorang wanita turun dari truk. Foto itu mulai beredar pada pertengan bulan tahun ini, setelah tentara Irak dipukul mundur oleh ISIS keluar dari kota Falllujah pada bulan Juni.


Apa yang dilakukan Duta Besar Suriah untuk PBB adalah sebuah propaganda untuk memperbaiki citra pemerintah Suriah di mata dunia. Namun sangat disayangkan Jaafari melakukan tipuan dengan menunjukkan foto yang tidak ada korelasinya dengan Suriah dan menciptakan klaim palsu, itu hanyalah salah satu contoh klaim palsu dari pihak pemerintah Suriah yang berhasil dibongkar, entah berapa banyak klaim lainnya yang tidak diketahui dan banyak disebarkan oleh outlet berita internasional hingga ditelan mentah-mentah dan menciptakan doktrin sesat tentang konflik di Suriah.

Apa yang sebenarnya terjadi di Suriah?

Menurut Stockholm International Peace Research Institute, mengingat begitu kompleksnya konflik Suriah menyebabkan informasi dari media bias dalam setiap laporannya menjadikan sebuah tantangan utama dengan mengumpulkan data yang akurat agar dalam setiap informasinya tidak terjadi kesalahan. Dalam setiap memberikan informasi harus melakukan penelitian terlebih dahulu dan harus bijak tidak boleh mengurangi ataupun menambahkan mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Sejak berita media international dilarang di Suriah, sumber utama dari informasi yang beredar biasanya berasal dari video pribadi yang diambil dengan ponsel lalu diunggah ke Youtube. Semua video yang beredar sangat sulit untuk diverifikasi secara independen dan beberapa stasiun TV menampilkan video konflik Suriah dengan mengambil video yang lebih tua berasal dari Irak dan Lebanon yang diklaim terjadi di Suriah.

Propaganda telah digunakan oleh pemerintah Suriah sejak awal konflik. Kantor berita resmi pemerintah Syrian Arab News Agency (SANA), sering menuduh pemberontak berasal dari FSA terafilisai dengan ISIS sebagai "kelompok radikal bersenjata atau teroris". Sementara sumber media lain meyakini bahwa mereka (para pemberontak) hanya kelompok ekstrimis bagian dari pihak oposisi yang menentang pemerintahan Assad. Presiden Assad telah memvonis pihak oposisi sebagai kelompok teroris bersenjata dengan motif ekstrimis ingin menggulingkan dirinya, meyakini dirinya sebagai jaminan terakhir untuk membentuk pemerintahan sekuler. Pengajar di sekolah umum mengajarkan dan mendoktrin siswanya bahwa konflik yang sedang terjadi di negaranya adalah bagian dari konspirasi asing.

Berita dari televisi SANA terkadang melakukan wawancara menggunakan narasumber berasal dari pendukung pemerintah Assad dengan menyamar sebagai penduduk setempat yang berdiri di dekat gedung atau rumah-rumah yang hancur dan mengklaim pelakunya adalah pihak pejuang pemberontak Suriah.

Serangan terhadap wartawan

Konflik di Suriah juga mengakibatkan banyaknya serangan terhadap wartawan. Laporan pada bulan Oktober 2012, lebih dari seratus wartawan profesional dan wartawan lokal dikabarkan tewas selama perang saudara di Suriah. Menurut Komite Perlindungan Wartawan, 13 wartawan tewas dalam insiden yang terkait dalam insiden selama melakukan peliputannya di Suriah selama 18 bulan awal pemberontakan di Suriah. Selama periode yang sama, Reporters Without Borders mengatakan bahwa total 33 jurnalis diketahui tewas, salah satunya wartawan Sunday Times Marie Colvin yang terbunuh setelah rumah di mana ia tinggal selama peliputan hancur oleh roket akibat pertempuran yang terjadi  di Homs.

Media lokal ataupun internasional dilarang memberitakan tentang konflik yang sebenarnya terjadi di Suriah, kecuali wartawan yang berasal dari pro-pemerintah. Banyak wartawan lokal dan iternasional yang ditangkap dan disiksa, salah satunya Mohammed Hairiri yang ditangkap pada April 2012 dan disiksa selama dalam penjara dan dihukum mati pada bulan Mei 2012 karena melakukan wawancara untuk Al Jazeera. Seorang wartawan Jordania keturunan Palestina Salameh Kaileh, mengatakan pada Amnesty Internasional bahwa ia disiksa dan dipenjara oleh pasukan pemerintah Suriah hingga kondisinya sangat mengenaskan sebelum dideportasi.

Setiap informasi yang beredar di internet secara bebas bergentayangan dengan klaimnya. Media online sangat berpengaruh dalam perkembangan informasi di media sosial, namun sayangnya mereka masih belum mampu untuk memverifikasi sebuah berita jika itu berasal dari internasional. Penulis berita seakan tidak peduli validitas dan kreadibilitas setiap berita yang ditampilkan, akhirnya masyarakat yang menjadi korban informasi sesat jika berita itu ternyata hoax. 

Kami menghimbau kepada masyarakat agar tidak terjebak oleh informasi dengan memilih untuk diam dan jangan terpancing oleh informasi apapun yang dihembuskan oleh kelompok manapun dalam mencari pembenaran atas kepentingannya. Biasakan untuk selalu skeptis (tidak mudah percaya) dan yang terpenting selalu tabayyun dalam memilih dan memilah informasi yang benar dan objektif.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!


Emoticon Emoticon