06 November 2016

Rokok Elektrik Apakah Bermanfaat dan Menyehatkan atau Berbahaya?

Ilustrasi

Ada banyak laporan terkait manfaat dan konsekuensi dari penggunaan rokok elektrik, kedua belah pihak yang pro dan kontra saling melemparkan klaimnya. Kami mencoba mencari kebenarannya berdasarkan pandangan badan kesehatan dan para ahli internasional.

Rokok elektronik pertama kali dipasarkan dengan tujuan sebagai jalur alternatif kesehatan pengganti rokok tradisional. Rokok elektrik diklaim tidak mengandung zat berbahaya bagi kesehatan manusia. E-rokok diharapkan menggantikan rokok tradisional yang selama ini berbahaya karena mengandung bahan kimia beracun yang hadir dalam asap rokok, e-rokok akan lebih aman karena tidak menggunakan api untuk pembakaran.

Meskipun rokok elektrik tidak mengandung zat berbahaya, hasil studi mengidentifikasi uap e-rokok dapat mengandung formalin penyebab kanker dengan tingkat hingga 15 kali lebih tinggi daripada rokok biasa.

Para peneltiti menemukan bahwa e-rokok dengan cara dioperasikan dengan tegangan tinggi dalam menghasilkan uap, sejumlah besar mengandung senyawa kimia formaldehida. Mereka juga menemukan bahwa jika digunakan pada tegangan rendah, e-rokok tidak melepaskan zat formaldehida.

Formaldehida (juga dikenal metanol, atau formalin) adalah karsinogen (zat yang menyebabkan penyakit kanker) yang menyerang manusia, menurut US National Cancer Institute. Formaldehida tidak berwarna dan berbentuk gas berbau tajam, yang biasa digunakan dalam industri yang paling sering dipakai adalah logam perakatau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium.

Penulis hasil studi James Pankow, seorang profesor kimia dan teknik sipil dan lingkungan di Portland State University di Oregon, ia mengatakan: "Kami telah menemukan ada unsur formalin yang tersembunyi dalam uap e-rokok yang biasanya tidak terukur.  Ini adalah bahan kimia yang di dalamnya mengandung formalin, dan formaldehida yang terhirup setelah dilepaskan." Pankow juga mengatakan, "Orang-orang tidak boleh berasumsi e-rokok benar-benar aman."

Sebuah artikel baru-baru ini telah diterbitkan mengacu pada hasil temuan di Hongkong yang membuat kejutan global, mengklaim bahwa e-rokok mengandung satu juta lebih karsinogen (mirip formalin) dari udara yang telah tercemar e-rokok. Penelitian ini mendapatkan kritik hebat, terutama untuk metodologinya. American Vaping Association, sebuah kelompok advokasi indutri untuk pembuat e-rokok, berpendapat bahwa studi itu cacat karena pengguna e-rokok tidak akan menggunakan perangkat mereka dengan tegangan tinggi.

"Bila perangkat uap digunakan pada pengaturan wajar 3,7 volt, tingkat formaldehida yang dilepaskan sesuai dengan tingkat yang telah disetujui oleh FDA (badan pengawas obat dan makanan Amerika)," kata Presiden Asosiasi Gregory Conley. Ia juga mengatakan ketika para peneliti meningkatkan tegangan ke 5 volt, itu menyebabkan overheating ekstrim dan meningkatkan produksi formaldehida

Pada bulan April 2014, FDA mengusulkan pembatasan federal yang memungkinkan e-rokok masuk dalam peraturan yang sama seperti rokok tembakau, pembatasan federal yang telah diusulkan masih dikaji dan tidak ada jadwal pasti penetapannya akan diterapkan.

Pada bulan Agustus 2016, WHO mengeluarkan laporan yang menyimpulkan bahwa tidak ada cukup penelitian untuk menentukan risiko dari e-rokok dibandingkan dengan rokok tembakau. Saat ini, dapat diperkirakan jumlah yang lebih aman adalah penggunaan produk ini dalam kaitannya dengan merokok. Namun WHO telah mengidentifikasi adanya zat beracun tertentu yang terkandung dalam e-rokok, termasuk timah, klorin, dan formalin. Meskipun kandungan racun pada e-rokok lebih rendah, ada pengecualian yang diamati di mana konsentrasi yang lebih tinggi daripada rokok biasa.

Mengacu pada laporan tahun 2014, WHO mengatakan bahwa meskipun ada bukti, namun bukti itu tidak cukup untuk menilai apakah e-rokok benar-benar dapat membantu dalam berhenti merokok tembakau.


Pada bulan Januari 2014, International Union Againts Tuberculosis and Lung Diseases, mengeluarkan pemberitahuan yang menyatakan bahwa manfaat dan keamanan rokok elektrik belum ditetapkan.

World Lung Foundation (WLF) diminta oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan regulasi kontrol yang lebih ketat pada industri rokok elektrik, termasuk beberapa larangan seperti menggunakannya di dalam ruangan. penjualan untuk anak di bawah umur, dan iklan. Industri e-rokok yang bernilai milyaran dolar telah berkembang dengan pesat tanpa pengawasan dan juga dikarenakan kekhawatiran akan kesehatan dan keselamatan serta kemungkinan penyebaran kecanduan nikotin dikalangan remaja.

"Sebuah studi menunjukan bahwa uap dari e-rokok menyebabkan perubahan pada tingkat sel dengan cara yang sama seperti rokok tradisional. Sebagaimana yang telah ditunjukan oleh WHO bahwa uap e-rokok tidak hanya uap air, tidak seperti yang selama ini indutri e-rokok suka mengklaim. Kemungkinan ada yang disembunyikan pada kombinasi bahan uap e-rokok karena berbahaya, seperti yang telah diketahui bahwa nikotin adalah zat adiktif yang dijadikan alasan untuk mengatur produk rokok di pasaran. Namun proposal untuk mengatur e-rokok di Amerika dan Eropa telah ditekan karena lobi industri e-rokok dan bahkan proposal telah ditekan dengan ancaman tindakan hukum.

Pada tahun 2012, World Medical Association (WMA) mengeluarkan penyatannya yang menurut mereka kurangnya studi kimia secara luas dan menggunakan hewan percobaan. Studi yang lebih mendalam harus bisa memastikan e-rokok yang tersedia di pasaran benar-benar dapat membantu masyarakat untuk berhenti merokok, dan menjamin keselamatan mereka yang menggunakan e-rokok sebagai pengganti rokok tembakau.

Produsen dan pemasar e-rokok sering mengklaim bahwa penggunaan produk mereka adalah alternatif yang aman bagi perokok, terutama karena e-rokok tidak menghasilkan uap karsinogenik. Namun tidak ada penelitian yang pernah dilakukan untuk memastikan bahwa uap tidak mengandung karsiogenik, dan ada potensi risiko lain yang terkait dengan perangkat tersebut. E-rokok dapat meningkatkan kecanduan nikotin dikalangan anak muda dan penggunaannya dapat menyebabkan mereka bereksperimen seperti dengan menambahkan rasa strawberrry atau coklat dalam produk e-rokok.

Pusat Penelitian Kanker Jerman (DKFZ), menerbitkan sebuah laporan pada tahun 2013, menyimpulkan bahwa rokok elektrik dapat dianggap aman dikarenakan kegagalan untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya pada kualitas produk e-rokok dari prodesun rokok tembakau.


Pada tahun 2015, Departemen Kesehatan Inggris, mengumumkan bahwa rokok tembakau biasa jauh lebih berbahaya dari pada rokok elektrik. Ini tidak berarti mereka tidak memiliki risiko, tetapi harus dengan kontrol yang lebih baik agar bisa menjadi alternatif yang berguna untuk berhenti merokok. Pada bulan Mei 2014, Cancer Research UK mengatakan: "Rokok elektrik hampir pasti lebih aman daripada rokok biasa dan mereka dapat membantu dalam berhenti merokok. Kami mendukung penggunaan e-rokok dengan kualitas tinggi, karena kami oercaya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membantu perokok yang kesulitan berhenti merokok dengan menyediakan alternatif yang lebih aman ... Namun, pemantauan keamanan saat ini tidak dapat memastikan bahwa produk ini sama-sama aman seperti dengan pengobatan pengganti nikotin."


Menurut Departemen Kesehatan Kanada, "Sampai saat ini (2013) keselamatan, kualitas dan efektivitas dari rokok elektrik masih belum diketahui. Produk e-rokok dengan atau tanpa nikotin dengan klaim kesehatan harus memenuhi persyaratan keselamatan umum dar Undang-Undang  Keamanan Produk Konsumen Kanada. Namun, Departemen Kesehatan Kanada menyarankan masyarakat Kanada untuk tidak membeli atau menggunakan rokok elektrik karena produk ini dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Di Amerika, FDA mengakui kemungkinan penggunaan e-rokok sebagai alternatif membantu untuk berhenti merokok, tetapi tidak untuk melanjutkannya pada tingkat persetujuan dari setiap produk untuk tujuan ini. Meskipun tidak mengandung zat berbahaya seperti pada asap rokok biasa, penelitian telah menunjukan adanya beberapa zat beracun, FDA mengacu pada  penelitian yang lebih mendalam untuk menentukan manfaat atau risiko yang membahayakan dari e-rokok.

Smokefree. gov menyimpulkan bahwa ada data yang cukup memadai mengenai manfaat dan risiko buruk dari rokok elektrik, dengan alasan ini dianjurkan untuk menghindari e-rokok. American Cancer Society menganjurkan untuk menghindari rokok elektrik, mengingat kurangnya beberapa elemen dan merujuk pada perokok yang menggunakan produk ini belum terbukti dapat menghentikan kebiasaan merokoknya.

Di Norwegia, Swedia, Hungaria, Brazil, Uruguay dan Singapura, penjualan rokok elektrik atau cairan yang mengandung nikotin sangat dilarang. Kerangka legislatif Uni Eropa telah menerapkan kontrol kualitas secara ketat pada kedua indikasi cairan dan evaporator agar dengan tepat terbuat dari bahan-bahan yang aman dan juga sebagai langkah keamanan mencegah penggunaan pada anak-anak.

KESIMPULAN

Berdasarkan fakta-fakta dari badan kesehatan dan komunitas medis internasional, mayoritas tidak merekomendasikan penggunaan rokok elektrik. Meskipun pada umumnya dianggap lebih aman dibanding rokok tembakau biasa, dalam beberapa pengecualian bahwa e-rokok mengandung zat beracun seperti formalin dan zat karsinogenik (walaupun cukup kecil dibanding rokok biasa). Keamanan dan manfaat e-rokok belum dapat dipastikan secara uji ilmiah yang lebih mendalam, kecuali klaim dari produsen dan orang-orang yang terlibat dalam penjualan produknya.

Anda perlu bantuan untuk berhenti merokok? Anda harus mempertimbangkan produk yang telah disetujui dan terbukti aman yang sudah melalui uji ilmiah. Anda juga dapat meminta saran kepada ahli kesehatan untuk mendapatkan nasihat tentang produk yang terbaik untuk Anda. Setiap klaim apapun tanpa uji ilmiah resmi tidak dapat dijadikan rujukan, kesehatan Anda lebih penting dan Anda tidak boleh mengambil risiko yang dapat merugikan kesehatan.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!


Emoticon Emoticon