18 October 2016

Para Ilmuwan Resmi Mengumumkan Great Barrier Reef Mati Setelah 25 Juta Tahun: Hoax


Berita tentang ekosistem karang laut terluas dan paling spektakuler di planet ini akhirnya dinyatakan mati oleh para ilmuwan, setelah hidup selama 25 juta tahun.

Berikut berita dari any.web.id.

Great Barrier Reef merupakan salah satu kekayaan alam paling spektakuler yang ada di muka bumi. Sayangnya, ekosistem terumbu karang terbesar di dunia tersebut diklaim telah mati setelah berusia lebih dari 25 juta tahun. Seorang penulis di majalah Outside, Rowan Jacobsen, menyatakan terumbu karang yang berada di wilayah Australia itu telah tiada pada tahun 2016 ini.

“Great Barrier Reef di Australia telah mati di tahun 2016 setelah sakit yang lama. Ekosistem ini berumur 25 juta tahun,” tulis Jacobsen. “Perubahan iklim dan pengasaman air laut telah membunuh salah satu fitur paling spektakuler di planet ini.

” Great Barrier Reef sendiri merupakan struktur karang terbesar di dunia dan satu-satunya yang bisa terlihat dari ruang angkasa. Ekosistem ini memiliki panjang 1.400 mil, dengan 2.900 terumbu dan 1.050 pulau. Secara total, Great Barrier Reef lebih luas dari wilayah Inggris dan berisi keanekaragaman hayati yang lebih kaya dari seluruh kekayaan alam di Eropa.

Terumbu karang tersebut menjadi rumah bagi 1.625 spesies ikan, 3.000 spesies moluska, 450 jenis karang, 220 jenis burung, dan 30 spesies paus serta lumba-lumba. Di samping itu, Great Barrier Reef juga menjadi rumah bagi salah satu populasi terbesar di dunia, yaitu dugong, dan menjadi tempat penyu hijau untuk berkembang biak.

Kekayaan alam ini dipercaya lahir selama zaman Miosen di pantai timur Benua Australia. Ekosistem ini dibentuk oleh karang dan hewan kecil seperti anemone. Seiring dengan permukaan air laut yang naik dan turun, karang ini membangun dirinya sendiri menjadi sebuah labirin besar hingga mencapai 1.400 mil di lepas pantai Australia.

Keindahan Great Barrier Reef mulai tercium dunia ketika Kapten James Cook menyentuh ekosistem ini pada tahun 1770. “Laut menyembunyikan sesuatu dari bawah dan batu tiba-tiba naik seperti piramida,” tulis Cook dalam jurnal perjalanannya.

Sayangnya, pemerintah Queensland mencoba untuk mengeksploitasi seluruh karang untuk perusahaan minyak dan pertambangan pada tahun 1960-an. Tindakan pemerintah ini kemudian melahirkan gerakan konservasi pertama di Australia dan kampanye “Save Reef” memuncak pada tahun 1975.

Pada tahun 1981, UNESCO menetapkan Great Barrier Reef sebagai Situs Warisan Dunia dan menyebutnya sebagai “wilayah laut yang paling mengesankan di dunia”. Sayangnya, di tahun yang sama, suhu air melonjak, dua-pertiga dari karang di bagian dalam mulai keropos, dan ilmuwan curiga bahwa perubahan iklim mengancam terumbu karang dengan cara yang tidak dapat dicegah.

Di pergantian milenium, pemanasan air laut ternyata bukan satu-satunya ancaman yang dibawa perubahan iklim. Sebagian lautan menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer dan menjadikan air laut menjadi lebih asam dan sedikit demi sedikit menggerus eksistensi Great Barrier Reef. 

 Akan tetapi, klaim kematian tersebut disanggah oleh pengelola Great Barrier Reef. Menurut penelitian terbaru mereka, hanya sekitar 22-25 persen bagian Great Barrier Reef yang mati akibat pemutihan karang terparah sejak ekosistem ini ditemukan tahun 1950 lalu. Pengelola Great Barrier Reef juga menambahkan bila bagian lain ekosistem terumbu karang itu tidak dalam kondisi terancam.

Meski demikian, klaim kematian dari Jacobsen harus tetap diperhatikan. Sebab, berdasarkan penelitian dari James Cook University pada April 2016 lalu, 93 persen kawasan Great Barrier Reef terkena dampak pemutihan karang yang bisa berujung pada kematian massal karang di sana.

Analisis:

Berita Great Barrier Reef Mati Setelah 25 Juta Tahun menyebar di outlet berita online dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pada 11 Oktober 2016, seorang penulis makanan dan wisata Rowan Jacobsen menerbitkan sebuah artikel yang menggemparkan di situs majalah outsideonline.com, dengan judul 'Obituary: Great Barrier Reef (25 Million BC-2016)'. Dalam artikel itu menyebutkan bahwa perubahan iklim dan pengasaman laut selama bertahun-tahun telah membunuh fitur paling spektakuler di planet ini. Dikatakan bahwa 25 juta tahun keberadaan Great Barrier Reef Australia, dengan ekosistem karang yang sangat luas, akhirnya mati pada 2016 setelah lama mengalami sakit.

Great Barrier Reef pada tahun 1950 (WWF)

Great Barrier Reef sekarang 2016 (WWF)

Merinci sakitnya Great Barrier Reef, dalam artikel menyebutkan bahwa pada tahun 1981 suhu air meningkat dan 2/3 dari karang di bagian dalam dari Great Barrier Reef diputihkan. Perubahan iklim di tahun kemudian mengakibatkan pemanasan air dan pemutihan massal menjadi pemandangan umum di musim dingin tahun 1997-98, yang lebih parah terjadi pada 2001-02. Dikatakan bahwa lautan menyerap lenih banyak karbon dari atmosfer dan menyebabkan lebih asam, dan mulai memecah karang hidup itu sendiri.

Khususnya, artikel tersebut menyebutkan pidato terkenal Charlie Veron untuk Royal Society 350 tahun di London pada tahun 2009, yang membahas jika Great Barrier Reef menjelang Hukuman Kematian. Charlie Veron, kepala ilmuwan berpengalaman untuk Australian Institute of Marine Science, dalam pertemuan perdana para ilmuwan memperkirakan bahwa konsentrasi karbon dioksida di atmosfer mencapai 450 bagian per-juta (di dunia akan mencapai pada tahun 2025) dan akan mengakibatkan kematian karang. Artikel itu juga menyebutkan bahwa sebanyak 50% dari karang dunia, bagian utara akan mati. Veron juga mengatakan keseluruhan bagian utara nantinya akan menjadi sampah.

Berdasarkan laporan artikel itu, banyak media online dan pengguna media sosial menanggapinya dengan duka cita atas matinya Great Barrier Reef, hingga kabar itu menjadi viral. Namun yang perlu dicatat adalah, dalam artikel itu tidak pernah menyebutkan bahwa para ilmuwan menyatakan Great Barrier Reef telah mati pada 2016.

Karang sekarat dan mati setelah Pemutihan di Great Barrier Reef (Catlin Seaviem Survey)

Great Barrier Reef tidak mati, namun dalam kondisi stres berat

Menanggapi berita kematian Great Barrier Reef tahun 2016 setelah lama dalam kondisi memprihatinkan, para ilmuwan menyatakan bahwa laporan tersebut terlalu dibesar-besarkan meskipun memang benar terjadi pemutihan massal. Para ilmuwan mengatakan Great Barrier Reef dalam kondisi stres berat, sama seperti struktur karang di seluruh dunia dalam kondisi berbahaya, namun tidak mati.

Mereka menyebutkan bahwa hampir seperempat dari karang-karang telah mati, dan daerah utara yang sebelumnya ekosistem murni yang mengalami efek terparah. Seorang ahli terumbu karang di Georgia Tech, Kim Cobb mengatakan ia meyakini bahwa tetap akan ada karang pada tahun 2025, termasuk bagian-bagian dari Great Barrier Reef. Para ilmuwan menyebutkan pemanasan global jangka panjang dan acidifying dari lautan menimbulkan ancaman besar terhadap terumbu karang di seluruh dunia, dan mereka berharap bahwa sebagian besar ekosistem akan dapat pulih.

Penyelam di atas karang yang memutih di Great Barrier Reef (Getty Images)

Jadi, klaim yang menyebutkan bahwa Great Barrier Reef secara resmi dinyatakan mati oleh para ilmuwan adalah berita palsu (hoax). Dari sisi lainnya, kabar itu memiliki nilai baik dalam proses menyelamatkan  Great Barrier Reef, fokus pada meminimalkan perubahan iklim dan memikirkan langkah-langkah untuk melindungi terumbu karang dunia.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!


Emoticon Emoticon