20 October 2016

Amerika Menaikan Status Defcon Pada Level 3: Hoax!


Beberapa outlet berita internasional dan lokal (Indonesia) melaporkan bahwa militer Amerika Serikat telah menaikan status DEFCON siaga dari 4 menjadi 3 karena ketegangan yang semakin meruncing dengan Rusia.

Berikut laporan berita dari merdeka.com.

Konflik Suriah membuat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia terus mengarah titik nadir. Kedua negara saling mengancam, bahkan Presiden Vladimir Putin memperingatkan warganya untuk bersiap-siap jika terjadi perang.

Hal yang sama juga dilakukan AS. Negara ini telah meningkatkan sistem pertahanannya menjadi Defcon level 3, artinya Pentagon tak lagi memandang sebelah mata terhadap ancaman-ancaman Rusia. Bahkan, negara ini bisa mengerahkan Angkatan Udaranya dalam hitungan 15 menit.

Dikutip dari harian Morning Ledger, Selasa (18/10), Defcon berarti 'kondisi kesiapan pertahanan', di mana negara dalam keadaan bersiap untuk menghadapi ancaman dari luar, seperti perang nuklir. Defcon terdiri atas lima level, di mana level kelima merupakan level paling terendah, di mana negara dirasa aman dari ancaman apapun.

Sebaliknya, Defcon level satu merupakan tanda bahaya. Jika itu terjadi, maka negara memiliki hak untuk menggunakan opsi militer guna menetralisir perang nuklir, dan melakukan respons cepat terhadap setiap ancaman. Sedangkan level tiga berarti Angkatan Udara AS bisa dimobilisasi hanya dalam waktu 15 menit.

Berdasarkan laporan dari media setempat, saat ini AS telah menetapkan Defcon 3. Penetapan ini dilakukan sesuai meningkatnya tensi, kejadian di dunia, dan kemungkinan pernyataan perang terhadap Rusia.

Tensi ketegangan itu terjadi setelah AS dan Rusia saling menyalahkan atas rusaknya perjanjian gencatan senjata, di mana terjadi pengeboman terhadap iringan bantuan, dan serangan terhadap Kota Aleppo. Di mana AS melindungi pasukan pemberontak dan Rusia berdiri di belakang Bashar al-Assad.

Belum ada penjelasan resmi dari pemerintah AS tentang penetapan Defcon 3 terhadap sistem pertahanan mereka. Apalagi, Rusia telah menyatakan bergabung dengan China untuk menghentikan operasi AS dalam membangun jaringan misil di Eropa dan Asia. 



Analisis:

Rumor tentang status Defcon 3 yang diberlakukan militer AS terkait ketegangan dengan Rusia, tidak ada bukti valid. Terakhir kali tingkat Defcon pada level 3 terjadi pasca serangan 9/11 pada 2001.

Klaim yang sedang berputar itu berasal dari opini yang ditulis di situs web defconwarningsystem.com, situs itu dijalanankan oleh sekelompok orang-orang yang tertarik pada informasi tentang perang nuklir. Mereka menyukai menganalisis peristiwa dunia, dan mereka juga menjalankan stasiun pemantauan radiasi pribadi. Mereka menduga tingkat Defcon telah dinaikan menjadi level 3, mereka hanya beropini dan menebak saja.Asumsi mereka dipengaruhi oleh daya tarik pada perang nuklir yang kemungkinan akan terjadi atas ketegangan antara Rusia dengan AS.

Mereka membuat klaim tidak berdasarkan keterangan resmi dari pihat terkait, mereka memiliki disclaimer:


The DEFCON Warning System is an analytical reporting organisation which focuses on nuclear threats against the US and offers an alert code to the public based on current events It is not affiliated with any government agency and does not represent the alert status of any military branch. The public should make their own evaluations and not rely on the DEFCON Warning System for any strategic planning. At all times, citizens are urged to learn what steps to take in the event of a nuclear attack.

Berdasarkan disclaimer pada situs mereka, sistem peringatan Defcon adalah sebuah organisasi yang terfokus pada ancaman nuklir terhadap AS dan menawarkan kode peringatan kepada masyarakat berdasarkan peristiwa yang sedang terjadi. Mereka tidak berafiliasi dengan lembaga pemerintah dan juga tidak mewakili status siaga setiap cabang militer, masyarakat harus membuat evaluasi sendiri dan tidak bergantung pada sistem peringatan Defcon untuk perencanaan strategis.

Situs Defcon Warning System (DWS) dikelola oleh seorang penulis di Washington State dan seorang mahasiswa di Texas A & M Ryan Barenklau. Mereka tidak mempunyai wewenang dalam menentukan status militer AS Defcon 4 menjadi level 3.

Apa yang sebenarnya terjadi tidak murni kesalahan DWS, mereka hanya memberikan pendapat atas kondisi politik AS saat ini. Media online yang terlalu membesarkan dan menganggap apa yang ditulis DWS resmi dari pemerintah AS, mereka memanfaatkan isu perang global yang kemungkinan akan terjadi akibat ketegangan Rusia-AS. Mereka (media online) melemparkan bola panas dan membuat masyarakat cemas akan terjadinya Perang Dunia jilid III, hanya berdasarkan "pendapat" dari beberapa orang yang akhirnya seolah itu adalah resmi dikeluarkan oleh pemerintah AS.

DWS tidak bertujuan untuk menyesatkan orang lain karena mereka menyatakan apa yang mereka tulis bukan resmi dari pemerintah. Disclaimer (penolakan) yang telah mereka cantumkan di bawah halaman web, sangat jelas siapa sebenarnya mereka dan apa yang mereka tulis tidak dapat dijadikan acuan resmi. Beberapa media online rupanya memanfaatkan rumor panas akan perang global hingga menjadikan pendapat/asumsi DWS seolah peringatan resmi dari militer AS.

Isu perang global mulai mengemuka setelah kondisi Rusia dan AS kembali menegang terkait operasi militer mereka di Suriah. Sebelumnya Rusia diisukan memerintahkan para pejabatnya yang berada di luar negeri untuk kembali ke Rusia adalah bagian persiapan Presiden Putin dalam perang global. Namun faktanya, permintaan Presiden Putin kepada pejabatnya di luar negeri untuk kembali ke rumah hanya masalah politik dalam negeri, tidak ada hubungannya dengan masalah konflik internasional. Analisis selengkapnya dapat di baca di sini.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!


Emoticon Emoticon