12 August 2016

Warga India Menggunakan Coca-cola dan Pepsi Untuk Pestisida: Tidak Ada Bukti Ilmiah!


Sebuah rumor yang cukup menarik telah lama beredar yang menyatakan bahwa Warga India menggunakan Coca cola dan Pepsi untuk pestisida tanaman.

Berikut artikelnya:

Salah satu lembaga sukarela terkemuka India, Pusat Sains dan Lingkungan ( CSE ) mengatakan bahwa minuman ringan yang diproduksi di India, termasuk mereka yang membawa nama merek besar seperti Pepsi dan Coca - Cola, mengandung kadar yang sangat tinggi dari residu pestisida dan akibatnya banyak petani telah menggunakan minuman tersebut untuk memerangi hama karena murah, dibandingkan dengan merek pestisida konvensional.

Lebih murah dan lebih mudah untuk membeli Coke di beberapa negara dunia ketiga daripada untuk mengakses air bersih. Coke juga telah diuji sebagai bahan pembersih untuk membersihkan segala sesuatu dari noda minyak, kotoran di nat ubin dan bahkan cat dari furnitur.

Pada tahun 2003, CSE menganalisis sampel dari 12 produsen minuman ringan utama yang dijual dan menemukan bahwa mereka semua mengandung residu pestisida dari empat bahan yang sangat beracun yaitu insektisida : lindane, DDT, malathion dan klorpirifos. "

Dalam semua sampel yang diuji, tingkat residu pestisida jauh melebihi batas yang diizinkan. Jumlah pestisida maksimum 0,0005 mg per liter dalam air yang digunakan sebagai makanan yang ditetapkan oleh Komisi Ekonomi Eropa ( MEE ), " kata Sunita Narain, direktur CSE.

Tingkat klorpirifos 42 kali lebih tinggi dari norma MEE, penelitian mereka menunjukkan residu malathion adalah 87 kali lebih tinggi dan lindane yang dilarang di Amerika Serikat, 21 kali lebih tinggi, kata para ilmuwan CSE. Mereka menambahkan bahwa setiap sampel cukup beracun untuk menyebabkan kanker dalam jangka panjang, kerusakan pada sistem saraf dan reproduksi, cacat lahir dan gangguan parah pada sistem kekebalan tubuh. Sampel dari para pemimpin merek seperti Coca - Cola dan Pepsi memiliki konsentrasi yang hampir sama dari residu pestisida dalam temuan CSE. Kontaminan dalam sampel Pepsi adalah 37 kali lebih tinggi dari batas MEEsementara saingannya Coca - Cola 45 kali lebih tinggi.

Petani di kabupaten Durg, Rajnandgaon dan Dhamtari dari Chhattisgarh mengatakan mereka telah berhasil menggunakan Pepsi dan Coke untuk melindungi perkebunan padi mereka terhadap hama. Praktek menggunakan minuman ringan sebagai pengganti pestisida, yang 10 kali lebih mahal, mendapatkan popularitas begitu banyak bahwa penjualan minuman meningkat drastis di desa-desa terpencil Petani mengatakan penggunaan pestisida memerlukan biaya mereka 70 rupee ($ 1,50 ) per hektar.

Sebagai perbandingan, jika mereka mencampur sebotol Pepsi atau Coke dengan air biayanya kurang dari 55-60 rupee kurang per hektar. Spesialis pertanian Devendra Sharma mengatakan petani keliru dalam berpikir bahwa minuman adalah sama dengan pestisida.

Dia mengatakan minuman mengandung sirup gula dan akan menarik semut yang pada gilirannya akan menjadi sumber makanan bagi larva serangga. Sharma mengatakan menggunakan sirup gula untuk pengendalian hama bukanlah praktek baru.

Sesama ilmuwan, Sanket Thakur, memiliki penjelasan yang berbeda : " Semua yang terjadi adalah bahwa tanaman mendapatkan pasokan langsung dari karbohidrat dan gula yang pada gilirannya meningkatkan kekebalan tanaman dan perkebunan secara keseluruhan akhirnya menghasilkan panen yang lebih baik. " Coke di Amerika Serikat mengandung sirup jagung fruktosa tinggi yang bahkan mungkin terbukti menjadi pestisida yang lebih efektif karena merupakan terkonsentrasi gula fruktosa dan glukosa. Anupam Verma, manajer penjualan Pepsi pada saat di Chhattisgarh, mengatakan angka penjualan di daerah pedesaan meningkat sebesar 20 %.

Akibat kekhawatiran warga India adanya pestisida dalam produk Coke dan Pepsi, produk mereka mengalami penurunan penjualan di India. Di beberapa negara bagian iklan Coke dan Pepsi dihapus dari media, namun pihak Coke menyatakan bahwa produk mereka aman. Kehebohan yang terjadi selama bertahun-tahun atas pestisida yang terkandung dalam minuman berkarbonasi membuat pihak Coca-cola dan Pepsi sangat terpukul karena mereka bersama-sama menguasai hampir 90% pasar minuman berkarbonasi di India.

Sebuah pusat penelitian di India telah menguji air yang digunakan Coca-cola di India tidak mengandung pestisida. Namun bukti validasi masih diragukan dan mendapatkan bantahan dari kelompok peneliti lainnya. Pada tahun 2003, Pusat Sains dan Lingkungan, yang terletak di New Delhi merilis sebuah laporan tentang residu pestisida dalam minuman berkarbonasi di India. Penelitian itu menyorot Coca-cola dan Pepsi karena mereka menguasi sebagian besar dari pasar minuman berkarbonasi di India.

Tata Energy Research Institute, telah ditugaskan oleh Coca-cola untuk melakukan studi independen di Atlanta dan University of Michigan pada fasilitas produksinya di India. Hasil studi itu tidak menemukan pestisida terkandung dalam proses air yang digunakan dalam produksi minuman. Namun penelitian yang berbasis di New Delhi (TERI) mengatakan bahwa studi yang telah dilakukan Coca-cola tidak dapat diterima bahwa produk mereka tidak mengandung pestisida karena mereka tidak menguji produk akhir yang diminum oleh konsumen. Tes yang dilakukan TERI menemukan residu pestisida dalam air tanah, yang jelas bahwa masalah kontaminasi adalah nyata dan perlu ditangani secara serius.

Warga India biasa menyemprotkan minuman cola ke tanaman dibandingkan untuk dikonsumsi. Tren penggunaan coca cola ini sudah menjamur dan banyak ditemukan di bagian negara lain dari India, dengan fakta bahwa bukan cuma brand Coca Cola atau Pepsi saja yang digunakan namun minuman kola lain produksi negara dan merek keluaran India sendiri.

Menurut laporan BBC News, ilmuwan spesialis agrikultur Devendra Sharma mengatakan bahwa pemikiran para petani bahwa soft drink tersebut sama dengan pestisida, adalah salah. Ia mengatakan bahwa minuman tersebut secara efektif hanyalah merupakan sirup bergula menggunakan pemanis buatan (aspartam) dan ketika dituangkan ke tanaman maka akan menarik semut untuk datang dan memakan larva-larva serangga hama yang ada di sekitar tanaman tersebut.

Devendra Sharma juga mengatakan bahwa menggunakan sirup atau gula pada tanaman sebagai upaya untuk mengontrol hama bukanlah sesuatu yang baru. Ia berkata bahwa Jaggery, sejenis gula merah yang dibuat dari pohon tebu sudah digunakan turun temurun di Indonesia untuk mengontrol hama. Pepsi dan Coca Cola akhirnya baru digunakan karena memperlihatkan hasil yang sama, dan karena trennya sedang naik.

Vikas Kocchar selaku regional manager dan komunikasi publik perusahaan Coca Cola mengatakan bahwa minuman yang digunakan sebagai pestisida tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan nalar ilmiah.

Tidak ada bukti ilmiah yang dapat membenarkan minuman cola sebagai pestisida. Pengujian penyemprotan menggunakan air dengan kadar gula tinggi pernah dilakukan cukup lama mengacu pada beberapa situs organik, namun hasil survei sangat mengecewakan.

Perusahaan Monsanto selama satu dekade tidak lagi memproduksi atau menjual aspartam. Aspartam tidak digunakan untuk pestisida, pada awalnya (1965) diuji untuk obat bisul namun tidak efektif. Namun ditemukan fakta bahwa aspartam memiliki rasa yang sangat manis dan dengan demikian dapat digunakan untuk pemanis makanan. Rumor tentang pestisida awalnya berasal dari berita satir thespoff.com, para pecinta teori konspirasi menganggap berita itu nyata hingga berkembang luas.

Rumor tentang aspartam (pemanis buatan) dapat dijadikan pestisida membuat beberapa ilmuwan penasaran dan melakukan penelitian. Hasilnya, tidak ada perbedaan antara semut yang diberikan aspartam pada minuman cola dengan aspartam yang dikonsumsi manusia.

Faktanya aspartam jika masuk dalam tubuh menjadi tiga macam senyawa, yaitu metanol, asam aspartat, dan fenilalanin. Meskipun metanol bersifat toksik bagi tubuh, berdasarkan penelitian diketahui bahwa konsumsi produk yang mengandung Aspartam tidak mencapai tingkat toksik metanol. Kesimpulan yang sama juga berlaku bagi asam aspartat. Namun demikian, sejumlah kecil fenilalanin dapat menyebabkan kerusakan otak berat pada individu yang menderita kelainan genetik fenilketonuria (Phenylketouria/PKU). Jadi sebaiknya produk yang mengandung Aspartam dihindarkan bagi penderita kelainan tersebut.


Metanol secara alami adalah zat berbahaya bagi tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah besar. Jika mengkonsumsi 10 gram metanol akan menyebabkan kebutaan dan dosis yang ditoleransi yang ditetapkan maksimal 2 gram.

Untuk mencapai 2 gram metanol, seorang pria harus menkonsumsi 22,22 gram aspartam. Jumlah itu 123 kali lebih tinggi dari satu box minuman cola (per box mengandung 180 mg aspartam atau sama dengan 16,2 mg metanol).

Jika metanol berbahaya bila dikonsumsi dalam jumlah besar, apakah kita dapat menghindarinya? Kemungkinan itu sulit dilakukan karena metanol secara alami ada dihampir setiap makanan yang mengandung gula, seperti jus buah.


Dengan demikian satu porsi jus tomat bisa mengandung metanol 200 mg perliter, jumlah itu empat sampai enam kali lebih besar dari aspartam dalam sekaleng minuman cola. Satu porsi susu non-fat mengandung fenilalanin sekitar enam sampai sembilan kali lebih banyak dan 13 kali lebih banyak dari asam aspartat dari minuman manis mengandung aspartam. 

Etanol dimetabolisme oleh enzim yang sama seperti metanol. Jadi ketika seseorang datang ke ruang gawat darurat akibat keracunan metanol (metanol darah tinggi, asam format darah tinggi), cara untuk menghentikan produksi asam format lebih lanjut adalah dengan memberikan etanol. Oleh karena aktivitas enzim terhadap etanol lebih besar daripada terhadap metanol, maka enzim akan meninggalkan metanol dan memetabolisme etanol. Akibatnya metabolisme metanol terhenti dan asam format stop diproduksi. Hal ini memberikan waktu kepada tubuh untuk memecah asam format yang telah "terlanjur" diproduksi" sebelum ada asam format metabolit lanjutan.

Jadi, etanol dapat melindungi terhadap keracunan metanol adalah benar. Namun, fakta ini hanya berlaku dalam kasus-kasus keracunan metanol yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan sumber makanan yang mengandung metanol. Dalam kasus mengkonsumsi aspartam (seperti buah dan sayuran minuman atau sumber metanol), kadarnya sangat rendah sehingga benar-benar tidak ada perbedaan apakah mengandung metanol atau tidak.


Jadi, minuman Coca-cola dan Pepsi atau minuman soda lainnya yang menggunakan aspartam dapat digunakan untuk pestisida tidak dapat diterima secara ilmiah. 

Jika Anda benar-benar kuatir akan bahaya metanol, lebih baik Anda berhenti minum cola dan jus buah. Kami hanya menyarankan sesuatu yang berlebihan pasti berbahaya, namun jika dikonsumsi sesuai aturan maka akan aman dan bermanfaat.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!


Emoticon Emoticon