16 July 2016

Kumpulan Rumor Hoax Seputar Teror di Nice

Truk yang digunakan pelaku hingga menewaskan lebih dari 84 korban jiwa di Nice, Perancis

Aksi teror di Nice, Perancis,  yang menewaskan sedikitnya 84 korban jiwa pada hari kamis waktu setempat, menjadikan kesempatan para hoaxers untuk menyebarkan informasi palsu di internet maupun jejaring sosial. Berikut beberapa informasi palsu yang beredar di internet dan sosial media yang kami himpun dari media lokal Perancis.


Tidak ada penyanderaan di Nice

Rumor yang beredar bahwa ada penyanderaan di Hotel Meridien, Negresco dan Buffalo Grill Nice menyebar dengan cepat di Twitter. Beberapa netizen telah mengambil keuntungan dari kekacauan yang terjadi pada Kamis malam waktu setempat.


Rumor itu langsung dibantah oleh pihak Kementerian Dalam Negeri Perancis. Dalam akun Twitter resminya mengatakan "di Nice tidak ada penyanderaan".


Tidak ada kebakaran di bawah Menara Eiffel

Rumor lainnya juga muncul dengan mengatakan bahwa terlihat api membakar di bawah Menara Eiffel akibat dari kembang api yang dinyalakan saat perayaan hari bastille di Paris. 

Asap hitam terlihat membumbung di langit malam Prancis, setelah perayaan pesta kembang api untuk peringatan Hari Bastille.

"Sebuah truk yang membawa kembang api terbakar di dasar Menara Eiffel," kata polisi seperti dikutip dari DailyStar.co.uk, Kamis (15/7/2016).

Sejauh ini belum diketahui apakah peristiwa ini terkait dengan teror yang terjadi di Nice.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah kembang api meledak di dasar Menara Eiffel, ketika fans bentrok saat final Euro 2016.

Polisi juga menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ledakan akibat kembang api itu sedang ditangani.

Dalam perayaan Hari Bastille memang banyak digunakan kembang api.

Hari Bastille adalah peringatan terbesar di Prancis, tidak hanya penting bagi politik tapi juga masyarakat.

Banyak orang datang berkerumun di jalan untuk merayakannya bersama. Kelompok ISIS di Prancis biasanya menargetkan kendaraan dan bom mobil sebagai salah satu taktiknya.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Nice atau kecelakaan ledakan kembang api. 

Sebuah truk besar atau lori diduga kuat sengaja ditabrakkan ke arah kerumunan perayaan Hari Bastille di selatan Prancis Kamis 14 Juli 2016.

Sebanyak 77 orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan tersebut. Jumlah korban jiwa diperkirakan terus bertambah.

Sumber: Liputan6  (Asap hitam di langit menara Eiffel saat teror Nice, ulah ISIS?)

Rumor itu langsung dibantah oleh pihak kepolisian Paris, mereka menjelaskan bahwa api itu adalah asap yang berasal dari truk yang membawa kembang api yang terbakar di jembatan di Jena yang tidak jauh dari Menara Eiffel. Api langsung dipadamkan oleh pemadam kebakaran, kejadian itu tidak ada kaitannya dengan serangan teror di Nice.

"Jangan menyebarkan rumor palsu. Tidak ada api di Eiffel mobil pemadam kebakaran memadamkan api yang membakar truk di jembatan Jena," Ungkap kepolisian Paris dalam cuitannya diakun Twitter milik mereka.


Pengemudi maut tidak berteriak Allahu Akbar

Situs Tv Libertes melalui akun Twitter milik mereka melaporkan bahwa sang pengemudi maut ketika melancarkan aksinya berteriak "Allahu Akbar".


Tidak ada bukti sama sekali bahwa pelaku berteriak "Allahu Akbar". Bahkan situs tersebut mengklaim mendapatkan laporan dari media Swiss dan Inggris pada Jumat siang, tidak ada sumber resmi yang men-konformasi berita itu.

Yang perlu diketahui media TV Libertes dalam menyajikan berita selalu tidak netral dan sering berteori dan banyak menyebarkan propaganda. Media ini tidak dianjurkan untuk dijadikan sumber berita karena mereka memiliki kepentingan dalam setiap beritanya.

Bahkan banyak situs online Indonesia (Sidomi.com, Beter.idCovesia.com)  ikut mengabarkan pelaku berteriak "Allahu Akbar" yang sumber awalnya berasal dari cuitan Tv Libertes.

Sang pengemudi berteriak “Allahu Akbar” sebelum ditembak. Sehingga, diduga serangan ini berkaitan dengan ISIS.

Tidak ada anak-anak yang hilang yang ternyata ditemukan di kantor polisi Auvare

Saat kejadian yang sangat mencekam di Promenade des Anglais pada Kamis malam, banyak anak-anak yang panik hingga terpisah dari keluarga mereka. Berita itu bertentangan dengan kejadian sebenarnya, seperti yang dijelaskan oleh seorang wartawan dari Liberation, Marie Thornton, tidak ada anak-anak yang ditemukan di kantor polisi Auvare yang terletak disebelah utara kota.

"Aku sudah memeriksanya: informasi itu palsu. Tidak ada anak-anak berkumpul di kantor polisi Auvare," kicaunya di akun Twitter miliknya.


Aksi serangan Nice belum ada yang menyatakan bertanggung jawab

Beberapa berita mengabarkan aksi teror itu didalangi oleh ISIS. Tapi pada Jumat sore, mereka mengkonfirmasi bahwa itu hanya kemungkinan untuk menjadi pertimbangan karena pihak ISIS belum secara resmi mengeluarkan pernyataan mereka yang bertanggung jawab atas aksi teror itu.



Pengamat terorist David Thomson dalam wawancaranya dengan media Rue89 mengatakan, "mengapa mereka (ISIS) tidak mengklaimnya? Tidak ada aturan mereka harus mengklaim semua aksinya. Hal itu tergantung kecepatan mereka dalam mengkonfirmasi informasi dengan kelompoknya. Informasi itu akan diterima oleh kelompoknya lalu merilisnya. Kadang-kadang dibutuhkan waktu hanya beberapa jam saja seperti kasus teror di Magnanville, kadang juga beberapa minggu, dan kemungkinan juga mereka tidak mengeluarkan klaim."

Salah satu korban asal Meksiko fotonya beredar, foto itu bukan korban



Setiap terjadi serangan teror, wajahnya selalu kembali muncul dengan klaim yang sama. Namun namanya selalu berbeda seperti Robert, sekarang namanya Alfonso. Orang dalam foto itu bukan bagian dari korban serangan teror di Nice, foto itu sebelumnya diklaim korban pembantaian Orlando, bom bunuh diri di bandara Istanbul dan kecelakaan pesawat EgyptAir.

Secours Populaire tidak pernah meminta sumbangan untuk korban

Warga di Nice banyak yang melihat beberapa orang anggota Secours Populaire meminta uang sumbangan untuk membantu para korban. Melalui halam Facebook milik mereka, cabang departemen Secours Populaire telah membantahnya bahwa anggota mereka meminta sumbangan kepada warga, itu adalah penipuan.



Berdasarkan keterangan Sekertaris Jenderal Secours Populaire kepada media L'Express, penipuan itu sering terjadi dari waktu ke waktu, terutama saat Natal. "Tidak ada yang meminta sumbangan, memanfaatkan empati dari tragedi itu benar-benar sangat menjijikan," ucapnya. "Pihak kami tidak pernah meminta uang secara door-to-door," tambahnya.

Tersangka tidak memiliki akun Facebook

Setelah identitas pengemudi truk maut diumumkan kepada publik, banyak netizen yang berusaha mencari akun Facebook milik tersangka. Banyak netizen yang merasa yakin telah menemukannya, link akun milik tersangka disebarkan agar mendapatkan hukuman sosial.

Ada banyak profil di Facebook dengan nama "Mohamed Lahouaiej". Untuk saat ini tidak ada bukti bahwa tersangka memiliki akun Facebook. Demikian juga dengan foto-foto yang disebarkan yang mereka dapat di Facebook yang diklaim mereka dapat dari profil tersangka.

Tidak ada bukti itu foto tersangka 

Waspadalah dengan rumor yang beredar yang tidak jelas kebenarannya, teliti terlebih dahulu sebelum menerima setiap informasi yang beredar.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!

Referensi: L'Express


Emoticon Emoticon