26 July 2016

Fakta-Fakta Lukisan 'The Crying Boy' Yang Dianggap Terkutuk



Kisah aneh yang populer telah lama beredar hingga menjadi uraban legend merujuk pada beragam lukisan 'Bocah Menangis' di Inggris yang dianggap terkutuk dan dianggap sebagai penyebab kebakaran banyak rumah pada tahun 1980-an.

Banyak yang menyatakan bahwa lukisan-lukisan itu sama sekali tidak rusak dalam berbagai peristiwa kebakaran tersebut. Meskipun demikian, seperti yang dijelaskan di bawah ini, kutukan pada lukisan-lukisan itu tidak nyata.

BAGAIMANA KISAH KUTUKAN LUKISAN BOCAH MENANGIS MENJADI POPULER?

Lukisan yang jatuh dari dinding banyak dipercaya sebagai pertanda kematian. Tanggal 4 September 1985, koran tabloid The Sun yang populer di Inggris mempublikasikan sebuah cerita tentang ‘Kutukan Bocah Menangis (The Curse of the Crying Boy) pada halaman 13 dengan judul –‘Blazing Curse of the Crying Boy’.

Kisah tersebut menyebutkan tentang pasangan dari Rotherham, Ron dan May Hall, yang menyalahkan sebuah lukisan murah bergambar seorang anak yang menangis sebagai penyebab terbakarnya rumah mereka. Api berasal dari sebuah panci penggorengan di dapur dan menyebar dengan cepat. Tetapi, meskipun ruangan-ruangan di lantai bawah rumah mereka sangat rusak terbakar, lukisan bocah menangis tetap tergantung di dinding tanpa tersentuh api sedikitpun.

Adik Ron Hall, Peter, seorang pemadam kebakaran yang tinggal di Rotherham mengatakan bahwa dia tahu banyak kasus kebakaran di mana lukisan-lukisan bocah menangis tidak ikut rusak terbakar.

Dalam kelanjutan kisah tersebut pada tanggal 5 September 1985, The Sun melaporkan banyak cerita dari pembaca-pembaca yang mengaku sebagai korban dari ‘Kutukan Bocah Menangis’.


Seorang sekretaris dari Folklore Society, Roy Vickery mengatakan bahwa pelukis asli dari lukisan bocah menangis itu mungkin telah menganiaya sang bocah yang menjadi model lukisan. Dia menambahkan bahwa semua kebakaran tersebut kemungkinan adalah kutukan si anak sebagai bentuk balas dendam.

Hal-hal tersebut menimbulkan kecemasan yang menyebar luas. Orang-orang yang mengaku telah menyaksikan kebakaran-kebakaran itu yakin bahwa semua itu adalah kutukan. Tak lama kemudian, setelah banyak permintaan dari para ‘korban’, The Sun menawarkan pada orang-orang yang khawatir untuk mengirimkan lukisan-lukisan bocah menangis yang ada di rumah mereka ke kantor The Sun supaya dapat dihancurkan.

Kemudian, ribuan lukisan bocah menangis dihancurkan di depan umum pada hari Halloween. Pembakaran lukisan-lukisan tersebut dipercaya telah menghilangkan ‘kutukan bocah menangis’. Cerita-cerita mengenai kutukan tersebut mulai memudar, tetapi kemudian muncul kembali beberapa tahun kemudian dalam beberapa buku dan berita bahwa kutukan bocah menangis telah kembali.


Setelah The Sun mempublikasikan kisah kutukan lukisan bocah menangis yang menyebabkan ketakutan menyebar luas, penyelidikan kasus-kasus kebakaran yang berkaitan dengan lukisan itu pun dilakukan. Penyelidikan tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan kasus kebakaran tersebut terjadi akibat panci penggorengan yang dipanaskan berlebihan, kerusakan pada alat pemanas listrik, dan rokok yang dibuang sembarangan.

Laporan berita pertama yang ditulis The Sun menggunakan kata ‘kutukan’ , tetapi para pemadam kebakaran pada saat itu tidak menyebutkan kata tersebut. Harus diperhatikan juga bahwa pada tahun 1960an dan 1970an, puluhan ribu lukisan bocah menangis banyak dijual di berbagai toko di Inggris.

Dalam sebuah upaya untuk membuktikan tidak adanya hubungan antara lukisan-lukisan tersebut dengan kasus kebakaran, Kepala Bagian Pegawai dari Pemadam Kebakaran Yorkshire Selatan, Mick Riley mengungkapkan bahwa lukisan bocah menangis dicetak pada papan kayu keras yang sangat tebal sehingga sulit terbakar.


Selain itu, seorang penulis dan komedian Inggris Steve Point juga ikut menyelidiki kutukan tersebut dalam Punt PI, sebuah produksi dari radio Four milik BBC. Setelah melakukan pengujian di Building Research Establishment, dia mengungkapkan bahwa lukisan-lukisan bocah menangis dilapisi pernis yang mengandung zat penolak api.

Dia juga menjelaskan bahwa tali yang menahan lukisan tersebut di dinding adalah bagian yang akan terbakar pertama kali. Terbakarnya tali itu menyebabkan lukisan jatuh dengan bagian permukaannya menghadap lantai. Hal inilah yang menyebabkan lukisan tidak rusak terbakar.

Jadi, dengan mempertimbangkan fakta-fakta dan hasil penyelidikan menjadi jelas bahwa ada penjelasan logis (seperti yang dinyatakan di atas) mengenai kasus kebakaran di mana lukisan bocah menangis  tidak ikut rusak terbakar. Klaim mengenai kutukan adalah hoax. Meskipun demikian, cerita kutukan lukisan ini telah bertransformasi menjadi cerita legenda perkotaan modern di internet.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

Referensi:
CSI, curse that painting!
Wikipedia, The Crying Boy.


Penerjemah: Az Zahra Metasophia Hanifa


Emoticon Emoticon