03 April 2016

Singkong sebagai obat kanker


Beredar pesan berantai via BBM dan WhatsApp  yang menyatakan bahwa singkong ampuh dalam mengobati kanker. Bagaimana kebenaran berita tersebut? Mari kita cermati bersama.
Isi berita

AMERIKA MERAHASIAKAN BERTAHUN-TAHUN OBAT KANKER, TERNYATA BAHANNYA DI IMPOR DARI NEGARA KITA.
Dr. Cynthia Jayasuriya

Ini pengalaman saya sendiri, sembuh dari kanker dengan singkong. Mudah2an pengalaman ini berguna untuk orang lain.
Saya penderita kanker kandung kemih stadium 2.
Sesudah 7 tahun kanker di urethra. Ginjal, urethra dan sebagian dari kandung kemih sudah diangkat. Lalu saya melakukan radiasi di bagian perut.
Setelah merasa sehat selama 7 tahun saya melakukan kontrol secara teratur setiap tahun.
Pada tahun ke 7 ini, ada darah dalam urine saya yang disebabkan berkembangnya lagi sel kanker di kandung kemih.
Kanker baru itu pun kemudian diangkat lagi. Apa sebabnya kanker ini bisa berkembang lagi ?
Dari internet saya dapatkan informasi tentang penggunaan biji aprikot utk pengobatan kanker di Australia & Amerika yang disana tidak ada kemoterapi.
Seorang dokter dari Inggris yang bertugas di satu tempat terpencil di Afghanishtan mendapatkan kandungan vitamin B17 dalam biji aprikot.
Di Afghanistan, kekayaan seseorang diukur dari jumlah pohon aprikot yang dimilikinya.
Mereka bukan hanya makan buah aprikot, tetapi juga bijinya. Biji aprikot memiliki bentuk seperti almond dan terasa pahit.
Sebagian besar orang disana tidak ada yang menderita kanker. Setelah di cermati biji aprikot ternyata mempunyai kandungan vitamin B17.
Saat tengah dirawat karena kanker, saya ingin tahu tipe makanan teratur kami yang mempunyai kandungan vit B17. Ternyata vit B17 ada pada singkong.
Jadi saya makan singkong 10 gram 3x sehari...
Setalah mengkonsumsi selama 1 bulan, saya melakukan kontrol kandung kemih yg ditangani oleh dokter yang menangani kanker saya.
Beliau terkejut karena kandung kemih saya benar2 dinyatakan bersih dan normal.
Selama makan singkong, saya merasa sangat fit dan orang lainpun menyaksikan saya sangat sehat.

Lalu setiap 3 bulan saya check dan pasa akhirnya selalu bersih. Sejak saat ini saya hanya makan singkong dan tidak melakukan pengobatan yang lain.
Lewat cara sederhana, langkah kerja singkong seperti berikut :
Nama ilmiah vit B17 Amygdaline.
Sel kanker yakni sel yang belum masak dan memiliki enzym yang tidak sama juga dengan enzym normal.
Waktu vit B17 digabungkan dengan enzym sel normal, B17 akan terurai jadi 3 tipe gula.
Tetapi waktu tergabung dengan enzyme sel kanker, B17 terurai jadi 1 gula, 1 benzaldehida dan 1 asam hidrosianik.
Asam hidrosianik inilah yang membunuh sel kaker lewat cara lokal.
Biji aprikot dan singkong keduanya sama mempunyai kandungan vitamin B17.
Setelah menulis artikel mula2 pada tahun 2010, saya menerima beberapa informasi dari pasien kanker yang juga mengkonsumsi singkong.
Mr. Pereira, pria berusia 70 tahun, terdiagnosis menanggung kanker prostat.
Istrinya yang seorang pensiunan di rumah sakit kebetulan membaca artikel saya.
Mereka tidak memiliki dana untuk biaya pengobatan kanker dan suntikan yg diperoleh utk Mr. Pereira sangat lemah.
Istrinya cuma berikan singkong pada Mr. Pereira.
Setelah mengkonsumsi singkong selama 1 minggu, kondisinya mulai tambah baik.
Dan setelah sebulan makan singkong setiap pagi, dia melakukan kontrol.
Sejak mulai terdiagnosis kanker, hasil test PSA nya 280 – 290.
Tetapi setelah sebulan PSA nya jadi 5.89. Mereka menemui saya untuk nenunjukkan hasil test sebelum dan sesudah mengkonsumsi singkong.
Mr. Pereira sudah tidak merasakan lagi tanda2 kanker tersebut.
Ada lagi seorang pria lain yang menderita kanker hati dan sudah dilakukan operasi.
Dari hasil MRI scan dinyatakan tetap masih ada sel kanker yang belum terangkat.
Dia mulai makan singkong setelah operasi. Sebulan setelah makan singkong, dokter menyatakan tidak perlu dioperasi lagi dari MRI scan karena sel kanker ini tidak membesar.
Jadi mengapa tidak mencoba singkong ?
Singkong murah, mudah di dapat, mudah dimasak dan sangat lezat.
Caranya sangat mudah :
Cari singkong yg fresh, yang tak ada noda biru.
Rebus dan jangan ditutup pancinya selama memasak.
Itu akan membantu menguapkan kelebihan asam hidrosianik.
Juga jangan mengkonsumsi makanan yg mempunyai kandungan jahe/ginger, seperti biskuit jahe, ginger beer, ginger ale minimal 8 jam setelah mengkonsumi singkong.
Note :
Kenyataan inilah yang menjadi rahasia mengapa orang zaman dahulu tidak ada yg menderita kanker.
Semoga bermanfaat...
Tetap semangat.


Pembahasan

Sumber berita

Berita tersebut sebetulnya berasal dari negara Sri Lanka; Dr. Cynthia Jayasuriya adalah seorang dokter bedah THT dari Sri Lanka. Berita tersebut pertama kali ditulis pada 7 Februari 2010 di sebuah koran lokal Sri Lanka, Plus.[1] Berikut isi beritanya.

Manioc’s Vitamin B17 kills the cancer cell in humans

Apricot seed kernels are used in the fight against cancer. The kernels contain Vitamin B17, and Vitamin B17 is used in medication to counter cancer. B17 tablets with apricot seed extract are available in Australia and in the US. All the information you need is available on the www.worldwithoutcancer.com website.

This letter is about how manioc, which also contains Vitamin B17, has the potential to combat cancer. My story starts with a cancer I developed seven years ago. A cystoscopy revealed transitional cell cancer. The kidney, ureter and a little part of the bladder where the ureter enters the bladder were surgically removed. I was given radiation treatment, and I remained in good health over the next seven years (I was examined once a year). My bladder was cancer-free until November 2009. That month I started passing blood. Another cystoscopy was done, and a polypoidal growth close to the bladder neck was removed. The biopsy this time again revealed transitional cell cancer.

I had read on world without cancer.org that manioc – also known as cassava or tapioca – has a high B17 component. For a whole month following the removal of the polypoidal growth in the bladder, I ate manioc daily, usually twice a day. A cystoscopy done a month later showed that the bladder was completely symptom-free. I felt very well.

Was my wellbeing the result of the cancer-fighting properties of manioc’s Vitamin B17? It would be wonderful, I thought, if a test group of cancer patients used manioc in order to confirm that manioc really does have the ability to fight cancer, as it seemed to have done in my case.

Here is what happens when a cancer patient eats manioc:
Once the manioc is consumed, the manioc’s Vitamin B17 combines in the normal human cell with an enzyme called Rhodanese, which breaks down the B17 into three sugars. The cancer cell, which is an immature cell, has a different enzyme, beta-glucosidase, which breaks the B17 into glucose, benzaldehyde and hydrocyanic acid. The hydrocyanic acid acts like an LTTE cyanide capsule, killing the cancer cell.

I appeal to all cancer patients to try the manioc solution. If it works, it could be a great discovery for cancer patients around the world, especially those living in the tropics of Asia, Africa and the Americas, where manioc / cassava / tapioca grows and is freely available.

Please note that there are precautions to be taken in the preparation of manioc.

  1. Never, repeat never, eat ginger with manioc, or even after consuming manioc. If you have been eating manioc, do not take any form of ginger or ginger products, such as ginger beer and gingernut biscuits. The serious risks of mixing ginger with manioc are well known in Sri Lanka.
  2. When preparing manioc for eating, check whether the tuber shows a blue line when peeled for cooking. If there is a blue line, the manioc must be rejected. Manioc has cyanide in it and the blue line is an indication of cyanide emergence.
  3. Cook manioc in an earthenware pot. Fill the pot with water to completely cover the manioc, and well above the level of the manioc. When boiling, keep the pot open. Do not close the pot with a lid. Once the manioc is boiled, throw away the water in the pot.
Dr. Cynthia Jayasuriya, Ear, Nose and Throat Surgeon

Pada tanggal 24 Juli 2011, Dr. Cynthia Jayasuria kembali mempublikasikan pengalamannya, dengan disertai pengalaman orang lain, yaitu Mr. Perera.[2]

Kutipan berbagai referensi


Amygdalin
Menurut Wikipedia, amygdalin adalah glikosida sianogenik beracun yang dijumpai dalam banyak tumbuhan, tetapi paling banyak dalam kernel aprikot (dikenal sebagai badam (almond) pahit), persik (peach), dan prem (plum). Sejak tahun 1950, amygdalin dan bentuk modifikasinya yang disebut laetrile telah digembar-gemborkan sebagai pengobatan alternatif kanker, dan sering menggunakan istilah misnomernya vitamin B17.[3]

Menurut Dr. Ernest T. Krebs, Jr., komponen singkong (manioc), menjadikan kita bertahan hidup tanpa kanker. Konsentrasi terbesar berada dalam biji buah rosaceous, seperti aprikot, dan bitter nut. Beragam dokumen dari peradaban kuno seperti Mesir Kuno di era Firaun dan Tiongkok 2500 SM menyebutkan terapi menggunakan turunan bitter almond. Dokumen papirus Mesir dari 5000 tahun yang lalu menyebutkan “aqua amigdalorum” untuk pengobatan beberapa tumor kulit.[4]

Sayangnya, studi sistematis Vitamin B17 belum benar-benar dimulai hingga pertengahan abad 19, ketika Bohn, seorang kimiawan, pada tahun 1802 menemukan bahwa ada pembebasan asam hidrosianat pada saat distilasi air dari badam pahit. Segera setelah itu, banyak peneliti menjadi tertarik untuk menganalisis ekstrak ini. Robiuet dan Bourton mengisolasi senyawa ini untuk pertama kalinya, suatu kristal putih yang dinamakan AMYGDALIN.[4]

Sejarah dan kontroversi
Pada tahun 1845, amygdalin pertama kali digunakan sebagai obat kanker di Rusia, dan pada tahun 1920an masuk Amerika Serikat, tetapi dianggap terlalu beracun.[5] Pada tahun 1950an, bentuk turunan sintetisnya dipatenkan untuk digunakan sebagai pengawet daging[6] dan kemudian dipasarkan dengan merek dagang laetrile untuk pengobatan kanker.[5]

Pada tahun 2011, Cochrane Collaboration melakukan tinjauan sistematis dan menemukan bahwa:

Klaim yang menyatakan bahwa laetrile atau amygdalin memiliki pengaruh menguntungkan pada pasien kanker saat ini belum ditunjang oleh data klinis yang mendalam. Terdapat resiko yang perlu dipertimbangkan yaitu pengaruh negatif serius dari keracunan sianida setelah perlakuan dengan laetrile atau amygdalin, terutama untuk pengobatan oral. Pertimbangan manfaat dan resiko laetrile atau amygdalin sebagai obat kanker tidak diragukan lagi adalah negatif.[7]

Pada sebuah laporan kasus yang ditulis oleh Anuruddha M Abeygunasekera dan Kalana H Palliyaguruge menyebutkan bahwa:

Seorang pasien dengan kanker prostat menunjukkan level PSA yang terus meningkat meskipun mengkonsumsi singkong rebus dalam jumlah besar. Hal ini mengindikasikan ketidakefektivan dalam mengendalikan kanker prostat.[8]

Kesimpulan

Dari analisis di atas, ada beberapa hal yang patut dicermati.

  1. Judul sirkular adalah “AMERIKA MERAHASIAKAN BERTAHUN-TAHUN OBAT KANKER, TERNYATA BAHANNYA DI IMPOR DARI NEGARA KITA”. Negara manakah yang dimaksud dengan negara kita? Dr. Cynthia Jayasuriya adalah dokter bedah THT berkebangsaan Sri Lanka. Berita-berita yang beredar pun dimulai dari website berbasis Sri Lanka (domain .lk).
  2. Singkong (manioc) atau cassava memang mengandung amygdalin, tetapi hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah tentang efektivitas amygdalin maupun sintetisnya, laetril, sebagai obat kanker. Meskipun belum ada bukti ilmiah, tetapi bukti sejarah menunjukkan bahwa amygdalin dan sintetisnya laectril pernah digunakan sebagai obat kanker.

Berita yang dibawa seolah-olah dari Indonesia jelas menyesatkan (dengan menggunakan istilah negara kita). Namun demikian, kebenaran berita bahwa singkong mengandung amygdalin alias vitamin B17 dan amygdalin dapat digunakan sebagai obat kanker hingga saat ini masih kontroversi di kalangan ilmuwan. Sebagai masyarakat awam, sebaiknya kita dapat menyikapi dengan bijak. Tidak perlu terlalu berharap maupun terlalu apatis dengan manfaat singkong sebagai obat kanker, yang jelas singkong merupakan sumber karbohidrat, dan merupakan kudapan nikmat yang murah meriah sambil bersantai bersama keluarga.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!

Referensi


[1] C. Jayasuriya, "Manioc’s Vitamin B17 kills the cancer cell in humans," Sunday Times, 7 February 2010.
[2] C. Jayasuria, "My wonder drug for cancer," Sunday Observer, 24 July 2011.
[3] Wikipedia, "Amygdalin," 2010. [Accessed 01 April 2016].
[4] H. Gunatillake, "Vitamin B17, Fighting Cancer," The Sunday Leader, 14 February 2010.
[5] "Laetrile/Amygdalin," National Cancer Institute
[6] E. T. Krebs and E. T. Krebs Jr., "Hexuronic acid derivatives". US Patent US2985664, 1950.
[7] C. Fonseca, "Medical Controversy," The Island, 12 December 2012.
[8] H. Abeygunasekera and K. Palliyaguruge, "Does cassava help to control prostate cancer? A case report," journal of Pharmaceutical Technology and Drug Research, pp. 2-3, 2013, DOI: 10.7243/2050-120X-2-3
[9] S. Milazzo, E. Ernst, S. Lejeune, K. Boehm and M. Horneber, "Laetrile treatment for cancer," Cochrane Database Syst Rev, vol. 11, 2011, DOI: 10.1002/14651858.CD005476.pub3


Disclaimer: Informasi ini tidak bertujuan untuk menggantikan nasehat dokter. Sekoci.org tidak bertanggung jawab atas keputusan yang Anda buat berdasarkan informasi ini.

Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana


Emoticon Emoticon