11 April 2016

BENARKAH - Mendidihkan Air Matang Sebabkan Keracunan?

Pernah beredar issue bahwa mendidihkan kembali air yang sudah pernah dididihkan berbahaya bagi kesehatan. Benarkah issue tersebut, team Sekoci mencoba mengupasnya.

ReboiledIcokes
This work, "ReboiledIcokes", is a derivative of "Boling water in colour" by Markus Schweiss, used under CC BY-SA 3.0.
"ReboiledIcokes" is licensed under CC BY-NC-SA 4.0 by Sekoci.org.
Contoh berita

Contoh 1: dari warungkopi.okezone.com (17 November 2015).

Jangan Merebus Kembali Air yang Sudah Matang Jika Tidak Ingin Mengubahnya Jadi Racun

Haiiii Warkopers....Kalian pernah tahu gak kebiasaan yang salah dan seharusnya tidak kita lakukan pada air yang telah dimasak. Biasanya setelah memasak air ada saja air yang tersisa dan disimpan untuk nanti-nanti. Pastikan jika ingin menggunakannya kembali jangan merebus ulang air tersebut.

Apa salahnya?
Air yang masih mentah harus direbus agar kuman-kumannya mati. tetapi ketika merebusnya kembali maka akan mengubah susunan kimiawinya. Gas terlarut berubah menjadi mineral jika direbus kembali maka menjadi racun.

Pendidihan ulang dapat menyebabkan bahkan mineral yang baik seperti garam kalsium menjadi berbahaya bagi batu ginjal dan empedu.

Nitrat akan berubah menjadi nitrosamin ketika kamu merebus kembali air yang sudah matang tersebut. Unsur kimia arsenik dapat berubah menjadi karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit jantung. Jika diminum anak-anak mungkin dapat menderita gangguan perkembangan dan masalah neurologis.

Contoh 2. dari tribunnews.com (3 Desember 2015).

Ini Bahayanya Merebus Kembali Air yang Sudah Matang

SURYA.co.id - Kelihatannya memang sepele, tapi tahukah anda ternyata air yang sudah matang sangat tidak boleh direbus kembali.

Memang terkadang kita sering merebus kembali air yang sudah matang untuk memakainya kembali.

Entah itu diolah menjadi minuman panas atau memasak makanan. Kita beranggapan, air yang sudah matang lalu direbus kembali akan semakin bersih.

Sebaliknya, air tersebut malah sangat berbahaya buat tubuh kita.

Air yang sudah matang dan direbus ulang akan merubah susunan kimianya. Sehingga malah menjadikannya racun bagi tubuh kita.

Air matang yang direbus ulang akan menghasilkan bahan kimia tertentu seperti arsenik, nitrat dan flouride. Dan itu sangat berbahaya bagi empedu dan ginjal kita.

Bahaya keracunan arsenik meliputi neuropati perifer, gejala gastrointestinal, diabetes, efek sistem ginjal, penyakit jantung dan tumbuhnya sel kanker.

Dan nitrat telah dikaitkan dengan banyak penyakit seperti leukemia, limfoma non-Hodkin, dan juga penyebab kanker usus, kanker kandung kemih, kanker ovarium, kanker perut, kanker pankreas dan kanker kerongkongan.

Hasil penelitian Harvard University menyimpulkan menyimpulkan bahwa fluoride yang ditemukan dalam air minum mengakibatkan rendahnya IQ pada anak-anak.

Ngeri ya, akibat dari perebusan ulang air yang sudah matang, mulai sekarang biasakan merebus air satu kali saja ya.

Contoh 3: dari galamedianews.com (19 Januari 2016)

Ini Bahayanya Merebus Kembali Air yang Sudah Matang

Unntuk mendapatkan air yang bersih dan higienis adalah dengan memasaknya terlebih dahulu. Pada proses ini, kuman-kuman yang semula berdiam didalam air mentah akan mati. Dan pada tahap ini, air akan menjadi lebih bersih, bebas kuman dan baik dikonsumsi untuk kesehatan.

Namun, terkadang kita sering mendidihkan kembali air yang sudah matang, misalnya saat ingin membuat secangkir kopi atau teh hangat dan keperluan memasak lainnya. Sebagian orang beranggapan bahwa, air yang telah matang kemudian bila direbus kembali maka akan semakin bersih. Padahal, air tersebut justru sangat berbahaya bagi tubuh kita.

Pasalnya, air yang telah matang dan bila dididihkan kembali akan merubah susunan kimia si air tersebut. Sehingga, justru menjadikannnya racun bagi tubuh kita.

Dengan membiarkan air mendidih terlalu lama atau merebus kembali air yang telah matang, maka secara tidak langsung kita telah mengonsentrasikan kandungan kimia berbahaya dan bukan malah menyingkirkannya.

Dimana kandungan-kandungan kimia tersebut berupa arsenik, nitrat dan flouride. Terlebih lagi, mineral yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi racun ketika telah terkonsentrasi. Misalnya garam kalsium yang dapat menyebabkan batu ginjal dan juga batu empedu bila dikonsumsi secara berlebihan.

Berikut penjelasan mengenai bahaya kandungan kimia yang terdapat pada air yang dimasak kembali sepert dilansri dari viva.co.id :

1. Arsenik
Arsenik dapat menyebabkan keracunan yang mampu melemahkan fisik secara perlahan selang waktu beberapa tahun, tergantung dari dosis arsenik yang telah masuk ke dalam tubuh. Selain itu, efek keracunan arsenik meliputi gangguan pencernaan, gangguan kulit, neuropati perifer, gangguan ginjal. Diabetes, penyakit jantung dan juga kanker.

2. Nitrat
Nitrat bisa ditemukan secara alami di tanah, air dan udara. Namun bahan kimia ini bisa berubah menjadi racun yang sangat berbahaya bila digunakan sebagai pengawet makanan atau saat terkena panas yang sangat tinggi seperti pada air yang mendidih.

Saat nitrat terkena suhu tinggi, maka ia akan terkonversi menjadi nitrosamine yaitu senyawa yang bersifat karsinogenik. Selain itu, nitrat juga sering dikaitkan sebagai penyebab berbagai macam penyakit seperti kanker usus, leukimia, kandung kemih, limfoma non-Hodkin, kanker ovarium, kanker tenggorokan, kenker perut dan pankreas.

3. Flouride
Telah banyak dilakukan penelitian mengenai konversi bahaya flouride dan keberadaannya pada air minum. Dimana faktanya adalah, memang kandungan flouride tersebut terdapat di dalam air minum dan bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan tubuh kita.

Universitas Harvard menyimpulkan hasil penelitian lebih dari 27 penelitian yang dilakukan selama 22 tahun terkait dampak paparan flouride terhadap fungsi neurologis dan kognitif pada anak-anak bahwa, kandungan flouride yang ditemukan dalam air minum dapat mengakibatkan IQ rendah dikalangan anak-anak. Bahkan, hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Kesehatan Lingkungan.

Demikianlah bahaya yang akan kita dapatkan bila memanaskan atau mendidihkan ulang air yang telah matang. Meski terlihat sepele, namun ternyata bahaya yang terdapat dibalik hal tersebut sungguh sangat luar biasa. Oleh sebab itu, jangan pernah mendidihkan kembali air yang telah matang dan juga jangan sampai air yang kita masak terlalu lama mendidih. Semoga bermanfaat.

Kiki Kurnia

Contoh 4: dari healthy holistic living (Mei 2015) yang juga diposting di facebooknya

Warning: Don’t Reboil Water Ever Again!

This happens to me at least once a week: I fill my electric kettle up with water to let it boil for my evening tea and then… well, anything can happen. I was in the middle of working on something, or the TV show I’m watching just got really good and now what?

The perfectly hot water is now regrettably cold. The solution may seem simple; just turn the kettle back on and reboil it to be enjoyed in a couple more minutes.

But what happens to water when we reboil it?

It’s something they never taught us in chemistry class, but really should have. When we boil water, the chemistry of it changes, which is usually a good thing as it boils out volatile compounds and dissolves gases. This is why boiling water mostly ensures that it’s safe to drink.

If water is left boiled too long or is reboiled, the chemical compounds change for the worst. By leaving your water to boil down, you’re actually concentrating many harmful chemicals instead of getting rid of them.

The same thing happens when you reboil water, as the compounds concentrate and increase the risk of ingesting certain chemicals.

These chemicals could include arsenic, nitrates, and fluoride. Even the minerals that are healthy for us can become dangerous when concentrated, such as calcium salt which can lead to kidney stones and gallstones when taken excessively.

The Destructive Effects of Reboiled Water

1. Arsenic
“Drinking-water poses the greatest threat to public health from arsenic,” states The World Health Organization (WHO).

Exposure to arsenic may lead to arsenic toxicity, which can develop physical effects slowly over a number of years, depending on the level of exposure.

Dangers of arsenic toxicity include peripheral neuropathy, gastrointestinal symptoms, skin lesions, diabetes, renal systems effects, cardiovascular disease, and even cancer.

2. Nitrates
Nitrates are found naturally all over earth, in the soil, water, and air. However, the chemical can become harmful when used as a food preservative, such as in deli meats, or when exposed to high heat, such as boiling water.

When nitrates are exposed to high temperatures, they convert to nitrosamines, which are carcinogenic.

Nitrates have been linked to many diseases such as leukemia, non-Hodkin lymphoma, and different cancers, including colon, bladder, ovarian, stomach, pancreatic, and esophageal cancer.

3. Fluoride
Many studies have been done over the controversial chemical fluoride and its presence in drinking water. The fact is, it’s there and it could pose a threat to your health. Despite the proof of the dangerous effects of fluoride, the government insists to keep it in our water.

Harvard University took data from over 27 studies that were carried out for 22 years and linked fluoride exposure to neurological and cognitive function in children.

The results were published in the journal of Environment Health Sciences and concluded that fluoride found in drinking water resulted in lower IQ scored among children.

A more recent study completed in 2013 links fluoride to lower infertility rates in male mice.

Sarah Durocher

Analisis

Beberapa situs yang sudah mengulas tentang hal ini semua menyatakan ini adalah hoax atau tak terbukti secara ilmiah, dengan sumber berita semua merujuk pada Contoh 4 di atas. Sekoci mencoba membuktikannya dengan memaparkan dalil-dalil ilmiah beserta segala kemungkinan yang dapat terjadi. Tentunya dengan satu asumsi bahwa air yang digunakan memenuhi standar air minum atau air bersih. Asumsi ini diperlukan agar ada satu konstanta, tidak semuanya berupa variabel, sehingga lebih mudah dalam menarik kesimpulan.

Air

Sifat fisika dan kimia
Air adalah bahan kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air memiliki dua atom hidrogen yang berikatan kovalen dengan satu atom oksigen. Air tak berasa, tak berbau, berwujud cair pada suhu dan tekanan ambien, serta nampak tak berwarna pada jumlah kecil, meskipun air memiliki warna intrinsiknya berupa biru yang sangat muda. Es juga nampak tak berwarna, dan uap air praktis tak tampak sebagai gas.[1]

Secara umum, zat ionik dan polar seperti asam, alkohol, dan garam relatif larut dalam air, sedangkan zat non-polar seperti lemak dan minyak tidak. Molekul non-polar tetap bersama-sama di dalam air karena secara tingkat energi lebih menguntungkan bagi molekul air untuk berikatan hidrogen satu sama lain daripada terlibat dalam interaksi van der Waals dengan molekul non-polar.[1]

Klaim dari posting beredar

Dari empat contoh posting beredar di atas, yang paling lengkap dan paling mirip dengan versi Bahasa Inggrisnya adalah Contoh 3, dengan klaim sebagai berikut:
  1. Arsenik — dapat menyebabkan keracunan yang mampu melemahkan fisik secara perlahan selang waktu beberapa tahun, tergantung dari dosis arsenik yang telah masuk ke dalam tubuh. Selain itu, efek keracunan arsenik meliputi gangguan pencernaan, gangguan kulit, neuropati perifer, gangguan ginjal. Diabetes, penyakit jantung dan juga kanker.
  2. Nitrat — bisa ditemukan secara alami di tanah, air dan udara. Namun bahan kimia ini bisa berubah menjadi racun yang sangat berbahaya bila digunakan sebagai pengawet makanan atau saat terkena panas yang sangat tinggi seperti pada air yang mendidih.
    Saat nitrat terkena suhu tinggi, maka ia akan terkonversi menjadi nitrosamine yaitu senyawa yang bersifat karsinogenik. Selain itu, nitrat juga sering dikaitkan sebagai penyebab berbagai macam penyakit seperti kanker usus, leukimia, kandung kemih, limfoma non-Hodkin, kanker ovarium, kanker tenggorokan, kenker perut dan pankreas.
  3. Fluoride — Telah banyak dilakukan penelitian mengenai konversi bahaya flouride* dan keberadaannya pada air minum. Dimana faktanya adalah, memang kandungan flouride tersebut terdapat di dalam air minum dan bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan tubuh kita.
    Universitas Harvard menyimpulkan hasil penelitian lebih dari 27 penelitian yang dilakukan selama 22 tahun terkait dampak paparan flouride terhadap fungsi neurologis dan kognitif pada anak-anak bahwa, kandungan flouride yang ditemukan dalam air minum dapat mengakibatkan IQ rendah dikalangan anak-anak. Bahkan, hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Kesehatan Lingkungan.
NB: * ada typo konsisten yang seharusnya flUOride ditulis flOUride


Standar baku mutu air

Menurut Permenkes no 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum[2] dan no 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas[3], kadar arsenik (As), nitrat (NO3) dan fluorida (F) adalah sebagai berikut:
Parameter Satuan Kadar maksimum
yang diperbolehkan
Air minum[2] Air bersih[3] Air minum WHO[4]
Arsen mg/L 0,01 0,05 0,01*
Nitrat (sebagai NO3) mg/L 50 44,3** 50
Fluorida mg/L 1,5 1,5 1,5
* Nilai panduan sementara, karena terdapat bukti bahaya, tetapi informasi yang tersedia sehubungan dengan pengaruhnya pada kesehatan masih terbatas.
** Dalam Permenkes No 416/MENKES/PER/IX/1990 tercantum kadar Nitrat sebagai N adalah 10 mg/L. Angka dalam tabel di atas disesuaikan agar setara dengan Permenkes No 492/MENKES/PER/IV/2010 yaitu Nitrat sebagi NO3


Arsenik

Arsenik atau arsen adalah unsur kimia dengan lambang As dan nomor atom 33. Ketika dipanaskan di udara, arsenik teroksidasi menjadi arsenik trioksida; uap dari reaksi ini memiliki bau seperti bawang putih.[5]

Sumber lingkungan paparan arsenik adalah:[6]:11
  • pangan;
  • air;
  • tanah; dan
  • udara.
Toksisitas arsenik tidak dapat disangkal lagi. Tanda-tanda dan gejala-gejala keracunan arsenik akut dan sub-akut dapat dilihat di referensi [6]:72.

Karsinogenisitas arsenik hingga saat ini masih menjadi bahan perdebatan. Konsensus saat ini dalam hal karsinogenesis adalah bahwa ia bertindak terutama sebagai promotor tumor. Ko-karsinogenisitasnya telah dibuktikan dalam beberapa model. Namun, temuan dari beberapa studi pada paparan arsenik kronis yang mengenai populasi Andes (karena paparan sinar-UV ekstrem) tidak ditemukan kanker kulit akibat paparan arsenik kronis, membingungkan.[7]

Meskipun persyaratan standar WHO dan Permenkes untuk As pada air minum adalah 0,01; dan kemungkinan air minum tercemar As rendah; tetapi pernah terdapat issue di dunia tentang pencemaran air tanah di beberapa negara, antara lain Amerika Serikat, India, Bangladesh, Argentina, dan Nepal.[8]

Dalam kutipannya, Sarah Durochner menyebutkan "Drinking-water poses the greatest threat to public health from arsenic,” states The World Health Organization (WHO)",tetapi tidak dijelaskan dari artikel yang mana dia mengutipnya. Berikut pernyataan WHO tentang hal tersebut:[9]
Drinking-water
Drinking-water poses the greatest threat to public health from arsenic. Inorganic arsenic is naturally present at high levels in the groundwater of a number of countries, such as Argentina, Chile, China, India (West Bengal), Mexico, the United States of America, and particularly Bangladesh where approximately half of the total population is at risk of drinking arsenic-contaminated water from tube wells. In one estimate, consumption of arsenic-contaminated drinking-water in Bangladesh resulted in about 9100 deaths and 125 000 disability-adjusted life years (DALYs*) in 2001.

Seluruh referensi menyebutkan toksisitas arsen dalam air adalah langsung, tanpa perlu airnya dididihkan berulang-ulang untuk menjadi racun. Apa yang disebutkan pada kutipan di atas tentang gejala keracunan arsenik memang benar adanya (kecuali kanker yang masih diperdebatkan oleh para ilmuwan), tetapi tidak ada hubungannya dengan mendidihkan air lebih dari satu kali.

Nitrat dan Nitrosoamina

Nitrat adalah bahan kimia yang sangat mudah larut dalam air. Sumber utama nitrat dalam air minum antara lain adalah pupuk, limbah, dan kotoran hewan. Hampir semua bahan yang mengandung nitrogen dalam air alami cenderung diubah menjadi nitrat. Nitrat juga terdapat secara alami di lingkungan, deposit mineral, tanah, air laut, sistem air tawar, dan atmosfer. Nitrat dan nitrit umumnya digunakan sebagai pengawet dan penguat warna pada daging olahan, meskipun jumlah yang ditambahkan pada produk ini jauh di bawah ambang batas sekali pakai.[13]

Perubahan nitrat menjadi nitrosoamina selalu didahului dengan perubahan nitrat (NO3) menjadi nitrit (NO2), baru kemudian dari nitrit menjadi nitrosoamina. Reaksi ini berlangsung dalam suasana asam[14].
Na+NO3 + 2H+ + e ⇌ Na+NO2 + H2O

Formation N-Phenyl-nitrosamine

Jack W. Winter et.al. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pembentukan N–nitrosamina dari nitrat yang didapat dari makanan dapat terjadi in-situ (dalam saluran pencernaan).[11] Penelitian lain bahkan menyimpulkan bahwa asupan nitrat pada rentang normal saja (tingkat acceptable dietary intake) jika dikombinasi dengan memakan ikan yang mengandung prekursor nitrosatabel dapat meningkatkan eksresi N-nitrosodimetilamina dalam urin yang menunjukkan peningkatan pembentukan nitrosamin karsinogenik.[12]

Belum ada kasus methemoglobinemia yang dilaporkan jika air mengandung kurang dari 10 ppm (mg/L) nitrat sebagai N (atau 44,3 ppm nitrat sebagai NO3). Sebagian besar kasus melibatkan paparan nitrat pada air minum melebihi 50 ppm nitrat sebagai N (atau 221,5 ppm nitrat sebagai NO3). Harus dihindari mendidihkan air berlama-lama yang dapat menguapkan air dalam jumlah besar, karena hal ini hanya meningkatkan konsentrasi nitrat dalam air akibat air menguap.[13]

Jika dibandingkan dengan klaim yang ditulis oleh Sarah Durochner,
When nitrates are exposed to high temperatures, they convert to nitrosamines, which are carcinogenic.

Nitrates have been linked to many diseases such as leukemia, non-Hodkin lymphoma, and different cancers, including colon, bladder, ovarian, stomach, pancreatic, and esophageal cancer.

hasil studi literatur dari berbagai sumber menunjukkan bahwa:
Perubahan dari nitrat menjadi nitrosoamina dapat terjadi kapan saja dan di mana saja (bahkan di dalam tubuh manusia) asalkan bertemu asam, dan tidak memerlukan pemanasan tinggi. Pemanasan air yang berulang-ulang tidak mengubah nitrat menjadi nitrosoamina, hanya menaikkan konsentrasi nitrat karena pelarutnya (yaitu air) menguap, yang berpotensi membentuk nitrosoamina di dalam tubuh.
Tidak ditemukan hubungan langsung antara mendidihkan air berulang-ulang dengan pembentukan nitrosoamina.

Fluorida

Fluorida dalam air selain dari sumber alami juga dari proses fluoridasi, yaitu penambahan fluorida terkendali pada pasokan air minum masyarakat untuk mencegah kerusakan gigi.[19]

Kontroversi fluoridasi air muncul berdasarkan alasan politis, moral, etis, ekonomis, dan keamanan berkenaan dengan fluoridasi (penambahan fluorin dalam bentuk fluorida) pada pasokan air untuk masyarakat. Mereka yang menentang berargumen bahwa fluoridasi air dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, tidak cukup efektif dalam menentukan biaya, dan dosisnya tidak dapat dikontrol secara tepat. Di beberapa negara, natrium fluorida bahkan ditambahkan ke dalam garam dapur.[18] Indonesia termasuk salah satu negara yang melaksanakan program fluoridasi air bersih.

Anna L. Choi dan kawan-kawan dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa:
Hasil penelitian mendukung kemungkinan efek buruk paparan fluorida tinggi pada perkembangan saraf anak. Penelitian di masa depan harus mencakup informasi rinci tingkat individu pada paparan pranatal, kinerja perilaku saraf, dan kovariat untuk penyesuaian.[15]

Sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan bahwa:
Keamanan dan efektivitas fluoridasi air masyarakat tetap didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang dihasilkan oleh para ilmuwan independen dan dirangkum oleh panel ahli. Community Preventive Services Task Force yang independen, non-pemerintah telah mencatat bahwa bukti penelitian tidak menunjukkan hasil fluoridasi air masyarakat memiliki efek kesehatan yang tidak diinginkan selain fluorosis gigi, suatu kondisi yang menyebabkan perubahan kosmetik pada penampilan enamel gigi.[16]

Sementara dalam FAQ pada situs California Department of Public Health menyatakan:
Apakah air dengan kandungan fluorida 1,0 ppm mengandung fluorida beracun setelah dididihkan? Tidak.

Jumlah fluorida dalam air memang meningkat setelah dididihkan. Namun, meskipun jika air dididihkan hingga setengahnya dan tidak ada fluorida yang hilang ke udara, konsentrasi maksimum hanya mencapai 2 ppm. Laporan ilmiah yang meliputi individu-individu yang mendidihkan air untuk keperluan memasak tidak menunjukkan pengaruh buruk pada kesehatan setelah beberapa kali pemeriksaan medis periodik dan berulang. Dosis fluorida minimum yang diperlukan untuk mendapatkan pengaruh fatal adalah 5,0–10,0 gram atau 5.000–10.000 mg (ppm). Dosis ini berkisar antara 2500 hingga 5000 kali jumlah fluorida yang terdapat dalam air yang difluoridasi 1,0 ppm dan telah dididihkan hingga setengahnya.


Mirip dengan kesimpulan untuk nitrat, pendidihan berulang tidak merubah fluorida menjadi senyawa yang berbahaya, tetapi hanya MENAIKKAN KADAR fluorida dalam air, karena konsentrasi adalah fungsi volume.


Pembahasan


Dari analisis di atas, tidak satupun penelitian yang menunjukkan adanya perubahan komposisi senyawa akibat pemanasan air secara intermittent. Namun, tidak dapat disangkal bahwa ketiganya menunjukkan adanya "pemekatan" bahan terlarut (yang dibahas di sini adalah arsen, nitrat, dan fluorida) karena berkurangnya air akibat penguapan.
Komponen Standar
air bersih
Dipekatkan hingga
volume tinggal 50%
Dipekatkan hingga
volume tinggal 25%
Dosis letal
Arsenik 0,05 ppm 0,1 ppm 0,2 ppm 70 – 200 ppm
(1~3 mg/kg/hari)[21]
Nitrat 44,3 ppm 88,6 ppm 177,2 ppm 2.800 – 21.000 ppm
(40~300 mg/kg/hari)[22]
Fluorida 1,5 ppm 3,0 ppm 6,0 ppm 350 ppm
(5 mg/kg/hari)[23]


Kesimpulan

  • Tidak ada hubungan antara mendidihkan air secara interminttent dengan perubahan kandungan kimia di dalamnya.
  • Pendidihan air secara intermittent hanya menaikkan kadar zat-zat kimia di dalamnya (pemekatan) karena berkurangnya volume pelarut (air) akibat penguapan.
  • Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa arsen (terutama As(III)), nitrat, dan fluorida berbahaya bagi tubuh memang sifat zat kimia tersebut, bukan karena mendidihkan air secara intermittent.


Saran

Kehati-hatian dalam mencerna informasi tetap diperlukan. Meskipun bahaya bahan kimia tersebut di atas adalah fakta, tetapi tidak ada hubungannya dengan mendidihkan air yang sudah matang. Mendidihkan kembali air yang sudah matang dikhawatirkan menaikkan konsentrasi bahan-bahan kimia di dalamnya. Oleh karena itu, ada baiknya ditambahkan air lagi sebelum mendidihkan kembali air yang sudah dimasak, misalnya memanaskan sayur. Ini untuk mencegah/mengurangi pemekatan.

Salam Icokes. Indonesian Hoax Buster!

Referensi

[1] Wikipedia contributors, Properties of Water, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 708378857 (2016-03-05), diakses tanggal 2016-04-07.
[2] Peraturan Menteri Kesehatan RI No 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
[3] Peraturan Menteri Kesehatan RI No 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
[4] World Health Organization, (2006), Guidelines for drinking-water quality [electronic resource]: incorporating first addendum. Vol. 1, Recommendations, (3rd ed.), ISBN: 92-4-154696-4
[5] Wikipedia contributors, Arsenic, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 706293113 (2016-02-22), diakses tanggal 2016-04-07.
[6] Gehle, K.; (2009), "Arsenic Toxicity (PDF)", ATSDR Case Studies in Environmental Medicine.
[7] Gebel T (April 2000). "Confounding variables in the environmental toxicology of arsenic". Toxicology 144 (1-3): 155–62. doi:10.1016/S0300-483X(99)00202-4. PMID 10781883.
[8] Wikipedia contributors, Arsenic contamination of groundwater, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 704975284 (2016-02-14), diakses 2016-04-07.
[9] World Health Organization, (2010), "EXPOSURE TO ARSENIC: A MAJOR PUBLIC HEALTH CONCERN" (PDF). Public Health and Environment, diakses 2016-04-07. [10] Kim, H., & Han, K. (2011). "Ingestion Exposure to Nitrosamines in Chlorinated Drinking Water (PDF)". Environmental Health and Toxicology, 26, e2011003. doi: 10.5620/eht.2011.26.e2011003. PMCID: PMC3214982
[11] Jack W. Winter, Stuart Paterson, Gordon Scobie, Angela Wirz, Tom Preston, Kenneth E.L. McColl, "N-Nitrosamine Generation From Ingested Nitrate Via Nitric Oxide in Subjects With and Without Gastroesophageal Reflux", Gastroenterology, 133 (1), July 2007, pp. 164-174, ISSN 0016-5085, doi: 10.1053/j.gastro.2007.04.047.
[12] Vermeer, I. T., Pachen, D. M., Dallinga, J. W., Kleinjans, J. C., & van Maanen, J. M. (1998). "Volatile N-nitrosamine formation after intake of nitrate at the ADI level in combination with an amine-rich diet". Environmental Health Perspectives, 106 (8), pp 459–463. PMCID: PMC1533225, PMID: 9681972.
[13] "Nitrate and Nitrite: Health Information Summary (PDF)", (2006), Environmental Fact Sheet, New Hampshire Department of Environmental Services.
[14] Wikipedia contributors, Nitrosation, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 693188794 (2015-11-30), diakses tanggal 2016-04-07
[15] Choi, A.L. et.al., (2012), "Developmental Fluoride Neurotoxicity: A Systematic Review and Meta-Analysis (PDF)", Environmental Health Perspectives, doi: 10.1289/ehp.1104912, PMID: 22820538
[16] Division of Oral Health, Community Water Fluoridation, National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, tanggal akses: 2016-04-08.
[17] Fluoridation Facts (PDF), American Dental Association, (2005).
[18] Wikipedia contributors, Water fluoridation controversy, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 713629927 (2016-04-05), tanggal akses: 2016-04-08.
[19] Wikipedia contributors, Water fluoridation, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 713018681 (2016-04-01), tanggal akses: 2016-04-08.
[20] Fluoride and Boiling, California Department of Public Health
[21] Wikipedia contributors, Arsenic poisoning, Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 712566760 (2016-03-29), tanggal akses: 2016-04-08
[22] Alonzo, C.M., (1996), Nitrates and nitrites, International Programme on Chemical Safety [23]  Whitford GM, (2011), "Acute toxicity of ingested fluoride", Monogr Oral Sci., 22, pp. 60&ndash80., doi: 10.1159/000325146., PMID: 21701192.

Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana


Emoticon Emoticon