18 April 2016

Bahaya Ekstrak Daun Pepaya


Malaysia sedang dihebohkan dengan issue tentang bahaya mengonsumsi ekstrak daun pepaya, mengingat daun pepaya (Carica papaya) banyak digunakan untuk mengobati demam berdarah dengue (DBD) yang menjadi ciri khas penyakit tropis. Tidak tanggung-tanggung, peringatan pun beredar hingga dalam bentuk infografis seperti di atas, yang dapat dijumpai di Blog (5 April 2016) dan Facebook (6 April 2016)


Manfaat daun pepaya sebagai obat demam berdarah dengue tidak hanya dikenal di Indonesia. Khasiat ini juga dikenal di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bahkan Pakistan dan Kenya juga mengenal khasiat ini. Sayangnya, hal ini digoyang dengan peringatan bahaya mengonsumsi daun pepaya karena mengandung glikosida sianogenik (cyanogenic glycoside) yang dapat terurai menjadi sianida yang beracun.

Status:

HOAX


Asal-usul

Infografis pertama yang berhasil ditemukan oleh team Sekoci tertanggal 5 April 2016 dalam sebuah blog dengan judul artikel Dengue treatment, not!:
Dengue treatment, not!

D is for Dengue fever.

DENGUE fever is a mosquito-borne tropical disease caused by the dengue virus. Here in Malaysia it is a problem that just won't go away. On the contrary, the number of dengue cases has escalated by 314% compared to the same period last year according to the Health Ministry.

There is no cure for dengue and locally, out of desperation people have resorted to traditional treatment. One such popular treatment is drinking the juice of the papaya leave. It has been reported that papaya juice increases platelet count.

However, the information on the chart below advises otherwise. [Blog (5 April 2016)]

This is what the Doctor told me when I was admitted for Dengue last year

Be Cautious [Facebook (6 April 2016)]

Tak ayal, issue ini membuat gerah pemerintah Malaysia, hingga Kementerian Kesehatan Malaysia merasa perlu memberikan press release, seperti dimuat dalam berbagai situs berita Malaysia yang diambil dari kantor berita Bernama.[1]
'You need to eat 12,000 papaya leaves to get cyanide poisoning'

The Health Ministry is still conducting studies on the use of papaya leaf juice to cure dengue fever, said its director-general, Dr Noor Hisham Abdullah.

He said clinical studies by the Institute of Medical Research (IMR) on the papaya leaf juice on a dengue fever patient (non-haeomorhagic dengue fever and class one dengue haemorrhagic fever) showed that the intake of 30 millilitre (mL) or two large spoonful of matured papaya leaf juice daily for three days raised the platelet count.

"The hike in platelet is only one of numerous processes taking place in a patient suffering from dengue fever.

"Studies are still being conducted on the use of papaya leaf juice for dengue fever. The ministry also does not provide papaya leaf juice in government hospitals," he said in a statement.

Dr Noor Hisham said this when commenting on a statement by certain parties that the papaya leaf contained dangerous chemicals, namely, syanogenic glycoside which could cause liver, kidney and heart failure and, subsequently, death.

According to Dr Noor Hisham, the papaya tree is grouped under weakcyanogenesis, namely, producing a small quantity of hydrogen cyanide (there are 0.02 milligrammes (mg) of cyanide in four papaya leaves and the amount goes down as a leaf increased in maturity).

He said the lowest cyanide dosage to endanger humans is one mg per kilogramme (kg) of body weight.

As such, he said, a person weighing 60 kg requires 12,000 papaya leaves at one time to induce poisoning.

"IMR has conducted a safety study by using the highest dosage of 2,000 mg for every kilogramme of body weight in laboratory animals.

"In the study, three intake methods were used, namely, only one dose, a dose daily for 28 days and one dose daily for 90 days. The result - no side effect to the kidney, liver and heart.

"The result of the blood test was normal while a specific study (hepatotoxicity study) on the liver was also normal," he said.

- Bernama


Berita yang sama juga dirilis oleh beberapa harian.[2][3]

Manfaat pepaya

Daun pepaya banyak digunakan untuk menu sayuran, terutama di sebagian Asia.[4] Di situs cookpad.com saja akan ditemukan 86 resep makanan berbahan daun pepaya.[4] Selain untuk kuliner, daun pepaya juga banyak digunakan untuk melunakkan daging,[5] dan sebagai obat herbal yang di Indonesia disebut dengan jamu.[6]
Penelitian terbanyak adalah pemanfaatan ekstrak daun pepaya untuk pengobatan demam berdarah dengue (DBD). Penelitian banyak dilakukan oleh para peneliti dari negara-negara tropis seperti Malaysia, Pakistan, dan Kenya, di mana DBD sudah merupakan langganan.[7][8]

Toksisitas daun pepaya

Selain banyak manfaatnya, ternyata daun pepaya juga mengandung toksin yang berbahaya. Senyawa toksin tersebut masuk dalam kelompok glikosida sianogenik (cyanogenic glycosides), nama senyawanya adalah prunasin dan sambunigrin.[9] Berapakah daun pepaya yang dibutuhkan untuk penelitian ini? Ternyata diperlukan daun pepaya sebanyak 20 kg hanya sekedar agar prunasin dan sambunigrin terdeteksi oleh peralatan laboratorium. Itu baru agar terdeteksi (kualitatif), belum agar terukur (kuantitatif).
David s. Seigler dkk. memerlukan 20 kg daun pepaya untuk menghasilkan 486 g ekstrak daun pepaya agar dapat mendeteksi glikosida sianogeniknya (prunasin dan sambunigrin).

Dalam ilmu kimia analitik, istilah "agar terdeteksi" berkaitan dengan Limit of Detection (LoD) suatu instrumen atau prosedur analisis, sedangkan "agar terukur" berkaitan dengan Limit of Quantification (LoQ) instrumen atau prosedur analisis. Kaidah umum yang dianut komunitas kimia analitik adalah:[10]


LoQ = 3 × LoD


Berdasarkan hal ini, secara perkiraan maka LoQ yang untuk penelitian di atas adalah memerlukan 1458 g ekstrak daun pepaya agar prunasin dan sambunigrin dapat dikuantifikasi, yang berarti memerlukan daun pepaya mentah sebanyak 60 kg.

Terlepas apakah toksin dalam pepaya hanya golongan glikosida sianogenik saja, atau ada golongan alkaloida lain yang juga beracun, uji toksisitas daun pepaya terus dilakukan, dengan beragam kesimpulan.

  • Zakiah Ismail dkk. dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun C. papaya pada tikus secara oral selama 13 pekan dengan dosis empat belas kali dosis yang terkandung dalam obat-obat tradisional tidak memberikan efek toksik yang bermakna.[11]
  • Penelitian lain yang dilakukan oleh Moses B. Ekong dkk. menyimpulkan bahwa ekstrak akuatik daun C. papaya pada dosis yang diberikan dalam penelitian ini dapat merugikan perkembangan janin, dan efek ini bergantung pada dosis yang diberikan.[Catatan 1] Oleh karena itu, penggunaan ekstrak terutama selama masa kehamilan harus dihindari.[12]
  • Richard N. Bennett dkk. menyebutkan, sianida, khususnya yang dibebaskan dari glikosida sianogenik, terdeteksi dalam daun dan akar C. papaya. Konsentrasi sianida tertinggi terdapat pada akar tunggang dan daun C. papaya muda, menunjukkan bahwa akumulasi glikosida sianogenik diatur sesuai pertumbuhan. Aktivitas tertinggi terdapat pada jaringan muda, dan menurun ketika jaringan menua.[13]
  • S.Z. Halim dkk. menyimpulkan bahwa pemberian 2000 ppm ekstrak daun pepaya secara oral kepada tikus tidak menyebabkan kematian atau pengaruh akut, namun dapat menyebabkan dehidrasi. Parameter lain teramati normal, kecuali trigliserida. Hasil ini akan dipantau dalam penelitian toksisitas sub-akut.[14]
  • P.A. Tarkang dkk. menyimpulkan bahwa:
    • pemberian 1000 ppm ekstrak daun pepaya dalam air tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan akut maupun kronis, namun pemberian 1000 ppm ekstrak daun pepaya dalam alkohol menunjukkan gejala keracunan pada liver dan ginjal.
    • ekstrak akuatiknya menunjukkan aktivitas hipoglikemik dan hipolipidemik, sehingga dapat digunakan untuk pengendalian gula darah bagi penderita diabetes.
    • ekstrak akuatiknya memberikan tanda-tanda peningkatan asam urat dan trigliserida dalam dosis tinggi, sehingga tidak disarankan untuk pemberian jangka panjang.
    • ekstrak akuatiknya lebih tidak beracun daripada ekstrak etanolnya.

Pembahasan

Dengan susah payah Sekoci mencari jurnal yang mendukung selebaran di atas, namun yang banyak bermunculan dari hasil pencarian justru jurnal-jurnal ilmiah yang mendukung manfaat-manfaat ekstrak daun pepaya. Ketika Sekoci mengetikkan "cyanogenic glycoside content in papaya leaf" pada mesin pencari, yang muncul di baris pertama adalah carica papaya leaves toxicity: Topics by Science.gov, tetapi di dalamnya didominasi penelitian ekstrak daun pepaya yang berhubungan dengan kesehatan, seperti pengobatan DBD (dalam hubungannya dengan peningkatan jumlah keping darah), sebagai antioksidan, dan sebagai anti kanker.

Selain penelitian yang dilakukan oleh Seigler[9] dkk., yang berhasil mengidentifikasi prunasin sebagai glikosida sianogenik dalam daun pepaya, beberapa penelitian lainnya belum ada yang merujuk kepada glikosida sianogenik tertentu seperti Seigler.

Monograf yang diterbitkan oleh WHO tentang glikosida sianogenik secara umum menjelaskan hal-hal berikut:[16]
  • Laporan penelitian toksikologi yang tersedia terdapat kesenjangan informasi dalam hal tingkat asupan glikosida sianogenik atau potensi jumlah hidrogen sianida yang dibebaskan.
  • Berdasarkan pengamatan epidemiologi, telah ditarik hubungan antara paparan kronis glikosida sianogenik dengan penyakit seperti paraparesis spastik, neuropati ataksis tropis, dan gondok. Namun, penyakit ini dipengaruhi pula oleh defisiensi gizi, dan hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan.
  • Konsumen tradisional makanan yang mengandung glikosida sianogenik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang perlakuan yang diperlukan agar tetap aman dikonsumsi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengumpulan data, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Klaim pertama dalam gambar: IT CONTAIN POWERFUL TOXINS (CYANOGENIC GLYCOSIDE) tidak lengkap, karena tidak mencantumkan kadarnya.
  2. Hingga saat ini belum ditemukan dengan pasti berapa kadar glikosida sianogenik dalam daun pepaya.
  3. Infografis di atas dapat dikategorikan sebagai HOAX.

Catatan kaki
  1. Dosis ekstrak daun pepaya yang diberikan dalam penelitian ini adalah 60 mg/kg (60 ppm) dan 120 mg/kg (120 ppm).[12]
Salam Icokes, Indonesian Hoax!

Referensi

[1] "You need to eat 12,000 papaya leaves to get cyanide poisoning", (31 Jan 2016), on malaysiakini.com, tanggal akses: 2016-04-11.
[2] "Health D-G: Papaya leaf consumption not fatal", (30 Jan 2016) on The Star online, tanggal akses: 2016-04-12
[3] "Papaya leaves safe for the treatment of dengue, improve platelet counts: Health Ministry", on New Strait Times online, tanggal akses 2016-04-12.
[4] Wikipedia contributors, "Papaya", Wikipedia, The Free Encyclopedia, ver 713990419 (2016-04-07), tanggal akses: 2016-04-12
[5] "86 resep daun pepaya rumahan yang enak dan sederhana" on cookpad.com Indonesia, tanggal akses: 2016-04-12.
[6] "Find a Vitamin or Supplement: PAPAYA", on WebMD.com, tanggal akses: 2016-04-12
[7] Ahmad, N., Fazal, H., Ayaz, M., Abbasi, B. H., Mohammad, I., & Fazal, L. (2011). "Dengue fever treatment with Carica papaya leaves extracts". Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 1(4), pp. 330–333. doi: 10.1016/S2221-1691(11)60055-5
[8] Singh, B., (2016), "THE CARICA PAPAYA LEAF IN MODERN THERAPY – Efficacy as antiparasitic, antiplasmodial, antiviral and anti-cancer agent", Researchgate, doi: 10.13140/RG.2.1.1958.6323
[9] Seigler, D.S.; Pauli, G.; Nahrstedt, A.; Leen, R.; (2002), "Cyanogenic allosides and glucosides from Passiflora edulis and Carica papaya", Phytochemistry, 60(8), pp 873-82, doi: 10.1016/S0031-9422(02)00170-X, PMID: 12150815
[10] Armbruster, D.A.; Pry, T. (2008). "Limit of Blank, Limit of Detection and Limit of Quantitation". The Clinical Biochemist Reviews, 29(Suppl 1), S49–S52. PMCID: PMC2556583
[11] Ismail, Z.; Halim, S.Z.; Abdullah, N.R.; Afzan, A.; Abdul Rashid, B.A.; Jantan, I.; (2014), "Safety evaluation of oral toxicity of Carica papaya Linn. Leaves: A subchronic toxicity study in Sprague Dawley rats", Evidence-based Complementary and Alternative Medicine, 2014, doi: 10.1155/2014/741470
[12] Ekong, M.B.; Akpan, M.U.; Ekanem, T.B.; Akpaso, M.I.; (2011) "Morphometric Malformations In Fetal Rats Following Treatment With Aqueous Leaf Extract Of Carica Papaya", Asian Journal of Medical Sciences, 2, pp. 18-22, DOI: 10.3126/ajms.v2i1.4028
[13] Bennett, R.N.; Kiddle, G.; Wallsgrove, R.M., (1997), "Biosynthesis of benzylglucosinolate, cyanogenic glucosides and phenylpropanoids in Carica papaya", Phytochemistry, 45(1), pp 59-66, ISSN 0031-9422, DOI: 10.1016/S0031-9422(96)00787-X.
[14] Halim, S.Z.; Afzan, A.; Abd Rashid, B.A.; Jantan, I.; (2011), "Acute toxicity study of Carica papaya leaf extract in Sprague Dawley rats", Journal of Medicinal Plants Research, 5(10), pp. 1867-1872, ISSN 1996-0875
[15] Tarkang, P.A.; Agbor, G.A.; Armelle, T.D.; Yamthe, T.L.R.; David, K.; Ngadena, Y.S.M.; (2012), "Acute and Chronic Toxicity Studies of the aqueous and ethanol leaf extracts of Carica papaya Linn in Wistar rats", J. Nat. Prod. Plant Resour., 2(5), pp. 617-627
[16] WHO, (1993), CYANOGENIC GLYCOSIDES, WHO Food Additive Series, No. 30, tanggal akses: 2016-02-12


Informasi ini tidak bertujuan untuk menggantikan nasehat dokter. Sekoci.org tidak bertanggung jawab atas keputusan yang Anda buat berdasarkan informasi ini.


Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana


Emoticon Emoticon